Sunday, September 25, 2016

Kecintaan dan Meneliti Diri Sendiri

Kecintaan dan Meneliti Diri Sendiri
   Sufyan berkata, “Kecintaan adalah mengikuti jejak Rasulullah SAW.”
Yang lain berkata, “Kecintaan adalah selalu zikir.”
Yang lain lagi berkata, “Mengutamakan Zat yang dicintai.”
Sebagian ulama berkata, “Merasa tidak suka tetap di dunia.”
Semua ini mengisyaratkan kepada buah-buah dari kecintaan itu. Adapun hakikat kecintaan itu sendiri, mereka tidak menjelaskannya.
Sebagian ulama berkata, “Kecintaan adalah sebuah arti dari orang yang dicintai, yang mengalahkan hati-hati ini untuk bisa menemukannya dan tidaklah mungkin lidah-lidah ini dapat mengungkapkannya.”
Al-Junaid berkata, Allah SWT mengharamkan kecintaan atas orang yang memiliki ‘alaqah (hubungan hati dengan selain Allah).” Dia juga berkata, “Setiap kecintaan adalah karena imbalan, lalu apabila hilang imbalan itu hilang pula kecintaan.”
Dzun-Nun berkata, katakanlah kepada orang yang memperlihatkan kecintaan kepada Allah, “Takutlah kamu akan hina menghadapi selain Allah.” Dikatakan kepada Syubali, “Terangkanlah pada kami orang arif (mengenal Allah) dan orang yang cinta.” Dia berkata, “Orang arif, kalau berbicara celaka sedang orang yang cinta kalau diam akan celaka.”
Asy-Syubali bersyair:
“Wahai Tuhan Yang Maha Mulia, kecintaan kepada-Mu bercokol di antara isi perut (hati). Wahai Tuhan yang menghilangkan tidur dari beberapa pelupuk mata, Engkau akan apa yang terjadi pada diriku adalah Maha Mengetahui.”
Dan syair untuk yang lain lagi:
Aku heran pada orang yang berkata, “Aku mengingat kecintaanku, dan apakah aku akan lupa lalu aku ingat apa yang aku lupa. Aku mati apabila aku mengingat-Mu kemudian aku hidup. Dan seandainya tiada kebaikan sangkaku tentu tidak akan hidup. Lalu aku hidup beberapa angan-angan dan aku mati karena sangat rindu, beberapa kali aku hidup atas Engkau dan beberapa kali pula aku mati? Aku minum kecintaan segelas demi segelas, lalu tidak habis minuman itu dan aku pun tidak pernah merasa segar. Maka hendaklah khayalannya terpancang pada mataku, lalu kalau aku memedekkan pandangannya aku akan menjadi buta.”

BERSAMBUNG…

(halaman ini masih dalam tahap pengetikan.)

No comments:

Post a Comment