Showing posts with label Mukasyafatul Qulub. Show all posts
Showing posts with label Mukasyafatul Qulub. Show all posts

Sunday, September 25, 2016

Tertawa, Menangis dan Pakaian

Tertawa, Menangis dan Pakaian
   Sebagian ulama ahli tafsir berkata mengenai firman Allah SWT:
“Maka apakah kamu merasa heran dengan mendustakan terhadap permberitaan ini yaitu Al-Qur’an. Dan kamu menertawakannya dengan meremahkan, padahal dia adalah dari Allah SWT. Dan kamu tidak menangis karena takut dan menjadi jera karena ancaman yang ada di dalamnya. Sedang kamu melengahkan(nya) lengah dan lupa dari apa yang ada yang dituntut dari kamu.” (QS. An-Najm:59-61)

   Ahli tafsir itu berkata, “Setelah turun ayat ini tidak pernah Nabi tertawa, kecuali hanya tersenyum.” Dalam sebuah riwayat dikatakan, “Lalu tidak pernah Nabi Muhammad SAW tertawa dan tidak pula tersenyum sampai beliau meninggalkan dunia.”
Dari Ibnu Umar ra, berkata, “Nabi Muhammad SAW pernah keluar pada suatu hari dari masjid. Pada saat itu sekelompok manusia sedang bercakap-cakap dan tertawa. Lalu beliau berhenti dan memberi salam pada mereka. Kemudian beliau keluar setelah menghacurkan semua kesenangan.” Kemudian beliau keluar pada waktu yang lain. Pada saat itu sebuah kaum lagi sedang tertawa. Beliau bersabda: “Ingat! Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandarinya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, tentu kamu akan tertawa sedikit dan tentu akan menangis banyak.”

BERSAMBUNG…
(halaman ini masih dalam tahap pengetikan)

Keutamaan Baik Budi Pekerti

Keutamaan Baik Budi Pekerti
   Allah SWT berfirman kepada Nabi-Nya, dan kekasih-Nya dengan memuji kepadanya dan memperlihatkan nikmat-Nya di hadapannya:
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
 (QS. Al-Qalam:4)

  Aisyah ra berkata, “Budi pekerti Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an.”
Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai kebaikan budi pekerti. Lalu beliau membaca firman Allah SWT:
“Jadilah kamu pemaaf dan serulah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.” (QS.Al-A’raf:199)

Kemudian beliau bersabda, “Ia adalah kamu harus menyambung orang yang memutusmu, memberi orang yang memutusmu, memberi orang yang menghalangimu dan memafkan orang yang menganiayamu.”
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia.”
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Yang paling berat diantara apa yang diletakkan di timbangan amal pada hari kiamat adalah takwa kepada Allah dan kebaikan budi pekerti.”
Seorang laki-laki datang menghadap kepada Rasulullah SAW,
dia berkata, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?”
Beliau bersabda: “Kebaikan budi pekerti.”
Kemudian dia datang dari arah kiri beliau dan berkata, “Apakah agama itu?”
Beliau bersabda: “Kebaikan budi pekerti.”
Kemudian dia datang dari arah belakang beliau dan berkata,
“Ya Rasulullah, apakah agama itu?”
Lalu beliau menoleh padanya dan berkata,
“Tidakkah kamu paham, dia (beragama) jangan sampai kamu marah.”
Dan ditanyakan kepada beliau, “Ya Rasulullah, apakah kecelakaan itu?”
Beliau bersabda: “Keburukan budi pekerti.”
Seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah SAW, “Berilah wasiat kepadaku.”
Beliau bersabda: “Bertakwalah kepada Allah di mana saja kemu berada.”
Dia berkata lagi, “Tambahkanlah kepadaku”
Beliau bersabda: “Susullah kejahatan dengan kebaikan, tentu kebaikan itu akan menghapusnya.”
Laki-laki itu berkata, “Tambahkanlah kepadaku.”
Beliau bersabda: “Pergaulilah manusia dengan budi pekerti yang baik.”
Nabi Muhammad SAW pernah ditanya, “Manakah amal yang lebih utama?”
Beliau menjawab: “Budi pekerti yang baik.”
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidaklah Allah menjadikan baik kejadian seorang hamba dan budi pekertinya, lalu dia dimakan neraka”
Fudhail berkata, dikatakan kepada Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Fulanah berpuasa siang dan berdiri malam (shalat malam), sedang dia perempuan yang berbudi jelek. Dia menyakiti tetangga dengan mulutnya.”
Beliau bersabda: “Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka.”
Abu Darda’ berkata, Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Pertama kali yang diletakkan dalam timbangan amal adalah kebaikan budi pekerti dan kemurahan hati. Dan ketika Allah telah menciptakan iman, berkatalah dia, ‘Ya Allah, kuatkanlah aku’.”
Lalu Allah SWT menguatkannya dengan kebakhilan dan keburukan budi pekerti.
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah telah memurnikan agama ini kepada Zatnya dan tidak patut untuk agamamu kecuali kemurahan hati dan kebaikan budi pekerti. Ingat! Hiasilah agamamu dengan keduanya.”
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Kebaikan budi pekerti adalah pekerti Allah yang agung.”
Dikatakan, “Ya Rasulullah, manakah di antara orang-orang muknin yang lebih utama keimanannya?”
Beliau bersabda: “Yang paling baik budi pekertinya.”
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya kamu tidak akan menguasai manusia dengan harta-hartamu. Maka kuasailah mereka dengan kecerahan wajah dan kebaikan budi pekerti.”
Nabi Muhammad SAW juga bersabda: “Keburukan budi pekerti akan merusakkan madu.”

BERSAMBUNG…
(halaman ini masih dalam tahap pengetikan)

Siksaan Ulama Dunia

Siksaan Ulama Dunia
Mukasyafatul Qulub
     Kami maksudkan dengan ulama dunia adalah ulama jahat yang tujuan ilmunya untuk kemewahan dunia dan sebagai jembatan untuk mendapatkan kemuliaan dan kedudukan di hadapan pemilik-pemilik dunia.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Sesungguhnya manusia yang paling berat siksanya pada hari kiamat adalah orang alim yang Allah tidak memberi manfaat kepada ilmunya.”
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Seseorang tidak menjadi alim sehingga dia mengamalkan ilmunya.”
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Ilmu itu ada dua macam, yaitu ilmu lisan. Itu adalah hujjah Allah SWT atas makhluk-Nya. Dan ilmu dalam hati itulah ilmu yang bermanfaat.”
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Akan ada pada akhir masa nanti orang-orang beribadah yang bodoh dan ulama yang menyimpang.”
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Janganlah kamu belajar ilmu untuk membanggakan diri kepada para ulama, untuk berdebat kepada orang-orang bodoh dan untuk memalingkan wajah-wajah manusia kepadamu. Barangsiapa yang melakukan itu, maka dia dalam neraka.”
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Barangsiapa yang menyembunyikan sebuah ilmu yang ada di sampingnya, maka Allah akan mengendalinya dengan kendali dari api neraka.”
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Sungguh aku lebih mengkhawatirkan dari selain Dajjal atas kamu daripada Dajjal.” Lalu ditanyakan kepada beliau, “Apa itu?” beliau bersabda: “Yaitu pemimpin-pemimpin yang menyesatkan.”
Nabi Muhammad SAW bersabda”
“Barangsiapa yang bertambah-tambah ilmunya, tetapi tidak bertambah mendapat petunjuk, maka dia tidak bertambah (dekat) kepada Allah kecuali lebih jauh.”
Isa AS berkata, “Sampai kapan kamu menuturkan sifat jalan pada orang-orang yang mengadakan perjalanan malam, sedang kamu sendiri tetap tinggal bersama orang-orang kebingungan?”
   Semua ini dan hadis-hadis yang lain menunjukkan tentang kegawatan besar ilmu. Karena seorang alim ada kalanya dia mengajukan dirinya kepada kebinasaan untuk selamanya atau kepada keberuntungan untuk selamanya. Dan sesungguhnya dia dengan terjun dalam ilmu benar-benar dihalangi dari keselamatan kalau tidak menemukan keberuntungan.

   Umar r.a juga berkata, “Sesungguhnya sesuatu yang paling aku khawatirkan di antara hal-hal yang aku khawatirkan terhadap umat ini adalah orang munafik yang alim.”
Mereka bertanya, “Bagaimana orang munafik dapat menjadi orang yang alim?”
Dia berkata, “Alim dalam lidahnya dan bodoh hati dan amalnya.”
Hasan berkata, “Janganlah kamu menjadi orang yang mengumpulkan ilmu dari ulama dan mutiara-mutiara hikmah dari hukama, tetapi kamu berjalanlah dalam amal seperti perjalanan orang-orang bodoh saja.”

Seorang laki-laki berkata kepada Abu Hurairah, “Aku ingin mempelajari ilmu tetapi aku khawatir kalau menyia-nyiakannya.”
Abu Hurairah berkata, “Cukuplah disebut meninggalkan ilmu bila menyia-nyiakannya.”

Dikatakan kepada Ibrahim bin Uyainah, “Manakah manusia yang lebih panjang penyesalannya?”
Dia berkata, “Kalau dia di dunia yang sekarang ini berbuat makruf kepada orang yang tidak mau mensyukurinya. Kalau setelah mati, dia orang alim yang sembrono (bersalah).”
Al-Khalil bin Ahmad berkata, “Laki-laki ini ada empat orang.
1.       Laki-laki yang mengetahui dan dia mengetahui bahwa dirinya mengetahui. Itu adalah orang alim, maka ikuti dia.
2.       Laki-laki yang mengetahui, tetapi dia tidak mengetahui bahwa dirinya mengetahui. Itu adalah orang yang tidur, maka bangunkanlah dia.
3.       Laki-laki yang tidak mengetahui dan mengetahui bahwa dirinya tidak mengetahui. Itu adalah orang yang menginginkan petunjuk kebenaran, maka tunjukanlah dia.
4.       Laki-laki yang tidak mengetahui dan tidak mengetahui bahwa dirinya tidak mengetahui. Itu adalah orang bodoh, maka buanglah (tinggalkanlah) dia.”

Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Ilmu itu bersuara menuntut amal, kalau orang memenuhinya, dia akan betah tinggal dan kalau tidak dia akan pergi.”
Ibnul Mubarak berkata, “Tidak henti-hentinya seseorang alim selagi dia mau menuntut ilmu. Lalu apabila dia menyangka bahwa dirinya benar-benar telah alim, maka dia benar-benar bodoh,”
Fuadhail bin Iyadh berkata, “Sesungguhnya aku benar-benar kasihan terhadap tiga orang. Bangsawan, suatu kaum yang telah menjadi hina, orang kaya dari suatu kaum yang telah menjadi fakir dan orang alim yang dipermainkan dunia.”
Al-Hasan berkata, “Siksaan ulama adalah kematian hati, sedang kematian hati adalah mencari dunia dengan perbuatan akhirat.”
Mereka bersyair:
“Aku heran terhadap orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk sedang orang yang membeli dunianya dengan agama adalah lebih mengherankan. Tetapi lebih mengherankan dari dua orang ini adalah orang yang menjual agamanya dengan dunia orang lain, maka dia lebih mengherankan daripada dua orang sebelumnya.”

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya ada orang alim benar-benar disiksa dengan sebuah siksa, dan mengelilinginya penghuni-penghuni neraka karena menganggap besar kepada kedahsyatan siksanya.”
Yang dimaksud beliau dengan orang itu ialah orang alim yang fajir (menyimpang).
Usamah bin Zaid berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Akan didatangkan seorang alim pada hari kiamat, lalu dilemparkan ke dalam neraka. Terburailah usus-ususnya, lalu dia berkeliling dengan menyeretnya, sebagaimana seekor keledai berputar membawa penggilingan. Berkerumunlah penghuni neraka padanya dan mereka berkata, “Mengapa kamu ini?” dia berkata, “Aku telah memerintahkan kebaikan dan aku sendiri tidak melakukannya.” Sesungguhnya siksaan orang alim dalam maksiatnya dilipat-gandakan karena dia maksiat disertai pengertian.”
Tuhfatul Arusy

Karena itulah Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka.” (QS. An-Nisa’:145)
Karena mereka mengingkari setelah mengetahui. Dan Dia menjadikan orang-orang Yahudi lebih jahat daripada orang-orang Nasrani. Padahal mereka tidak menjadikan anak bagi Allah SWT dan tidak pula mereka mengatakan, “Sesungguhnya Allah adalah ketiga dari Tuhan tiga.” Hanya saja, mereka mengingkari setelah makrifat lebih dahulu.
Karena Allah SWT berfirman:
“Mereka mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri.” (QS. Al-Baqarah: 146)

Dan Allah SWT berfirman:
“Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah atas orang-orang yang ingkar.” (QS. Al-Baqarah:89)
Allah SWT berfirman mengenai kisah Bal’am bin Ba’ura:
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda) maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.” (QS. A’raf:175)

Sehingga Dia berfirman:
“Maka perumpamaan seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya juga.” (QS. Al-A’raf:176)

Demikianlah orang alim yang fajir, karena sesungguhnya Bal’am telah diberi Kitab Allah, lalu dia cenderung kepada kesenangan-kesenangan nafsu. Bal’am lalu diumpamakan dengan anjing. Yakni sama saja, baik dia diberi hikmah atau tidak dia akan tetap menjulurkan lidah (maju) kepada kesenangan nafsu.
Isa a.s berkata, “Perumpamaan ulama yang jahat seperti sebuah batu yang jatuh pada mulut sungai. Tidaklah dia menyerap air dan tidak pula dia membiarkan air lolos menuju ke arah tanaman.”

Keutamaan Shalat Malam

Keutamaan Shalat Malam
   Firman Allah SWT:
“Sesungguhnya Tuhan mengetahui bahwasanya kamu berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam…” (QS. Al-Muzammil:20)
   Firman Allah SWT:
“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al.Muzammil:6)
   Firman Allah SWT:
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya.” (QS. As-Sajdah:16)
   Firman Allah SWT:
“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam…” (QS. Az-Zumar:9)
   Firman Allah SWT:
“Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS. Al-Furqan:64)
Dan juga firman Allah SWT:
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.” (QS. Al-Baqarah:45)

BERSAMBUNG…
(halaman ini masih dalam tahap pengetikan.)

Keutamaan Shalat Berjamaah

Keutamaan Shalat Berjamaah
   Nabi Muhammad SAW bersabda, “Shalat berjamaah mengalahkan shalat sendirian dengan duapuluh tujuh derajat.”
Abu Hurairah ra. Meriwayatkan, sesungguhnya Nabi Muhammad SAW pernah kehilangan manusia (makmum) dalam shalat. Beliau bersabda, “Sungguh aku telah bermaksud memerintahkan seorang laki-laki yang shalat (sebagai imam) dengan manusia. Kemudian aku sendiri akan berpaling menuju orang-orang yang tertinggal (tidak mengikuti)nya dan membakar rumah-rumah mereka.”
Di dalam sebuah riwayat yang lain. “Kemudian aku berpaling menuju beberapa laki-laki yang tertinggal. Lalu aku perintahkan mereka membakar rumah-rumah dengan seikat kayu api. Dan seandainya seorang dari mereka mengetahui akan menemukan tulang bersamin atau (makan) dua buah kaki unta yang dibakar, tentu dia akan menghadirinya.” Yakni Shalat Isya’
Usman ra berkata dengan marfu’, “Barangsiapa yang menghadiri shalat Isya, maka seakan-akan dia telah berdiri beribadah setengah malam dan barangsiapa yang menghadiri shalat Shubuh, maka seakan-akan dia  berdiri beribadah semalam.”
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiap yang shalat berjamaah, maka benar-bear dia telah memenuhi lautannya dengan ibadah.”

BERSAMBUNG…
(halaman ini masih dalam tahap pengetikan,)

Tobat

Tobat
   Tobat adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan. Allah SWT berfirman:
“Bertobatlah kamu kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya.” (QS.At-Tahrim:8)
Sedang perintah adalah menunjukkan kewajiban tobat adalah firman Allah SWT:
“Janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah.”
Yakni lupa dari segala yang mereka janjikan kepada Allah dan membuang ajaran kitabnya ke belakang punggungnya. “Lalu Allah menjadikan lupa kepada dirinya sendiri.”
Yakni menjadikan mereka lupa keadaannya sehingga mereka mencegah dirinya dan tidak mengamalkan kebaikan untuk dirinya itu. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa yang suka bertemu dengan Allah, maka Allah suka bertemu dengannya dan barangsiapa yang membenci bertemu dengan Allah, maka Allah pun membencimu bertemu dengannya.”
Kami telah membuka jalur perdagangan Nasional
“Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr:19)
   Yakni orang-orang yang durhaka dan membatalkan perjanjiannya, keluar dari jalan hidayah, rahmat dan ampunan Allah.
Fasik itu ada dua macam, orang fasik yang kafir dan orang fasik yang fajir. Orang fasik yang kafir ialah orang yang tidak beriman kepada Allah dan utusan-Nya, keluar dari hidayah dan masuk dalam kesesatan.
Allah SWT berfirman: “Dia fasik dari perintah Tuhannya.”
  Yakni keluar dari sikap taat perintah kepada Tuhannya supaya beriman. Sedang fasik yang fajir ialah orang yang minum arak, makan haram, berzina dan durhaka kepada Allah SWT, keluar dari jalan ibadah dan masuk dalam kemaksiatan, tetapi ia tidak musyrik. Perbedaan antara keduannya ialah kalau orang fasik yang kafir tidak akan diampuni kecuali dengan syahadat dan bertobat sebelum matinya, sedang orang fasik yang fajir bisa diharapkan ampunannya dengan bertobat dan menyesal sebelum mati. Karena setiap maksiat yang pangkalnya kesenangan nafsu, dapat diharapkan ampunannya, sedang dosa yang pangkalnya adalah kesombongan, maka tidaklah mungkin diharapkan ampunannya, dan kemaksiatan iblis pangkalnya adalah kesombongan.
Durratun Nashihin

   Untuk itu seyogyanya bagi kamu bertobat dari dosa-dosamu sebelum mati, dengan mengharapkan Allah dapat menerimamu.
Allah SWT telah berfirman:
“Dan Dia adalah Zat yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan.” (QS. Asy-Syura:25)
   Yakni menghapuskan apa yang mereka kerjakan dengan menerima tobat.
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak ada dosa baginya.”
   Diceritakan bahwasanya ada seorang laki-laki yang setiap kali melakukan sebuah dosa, dia selalu mencatat dosanya itu dalam pembukuan. Pada suatu hari dia melakukan sebuah dosa, dibukalah pembukuannya supaya dia dapat menuliskan itu di dalamnya. Tetapi dia tidak menemukan di dalamnya kecuali tertulis firman Allah SWT:
“Maka mereka itu, kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan.” (QS. Al-Furqan:70)
Risalah Qusyairiyah

   Yakni Allah mengganti syirik dengan iman, zina dan maksiat telah di ampuni diganti dengan sikap menjaga diri dan taat.
   Sesungguhnya Umar bin Khattab r.a suatu ketika lewat di sebuah jalan dari jalan-jalan di Madinah, berpapasanlah dengannya seorang pemuda yang sedang membawa sebuah botol di bawah bajunya.
Umar berkata, “Wahai pemuda, apakah yang kau bawa di bawah bajumu?”
Padahal yang yang ada di dalam botol itu adalah arak, maka pemuda itu merasa malu untuk mengatakan ‘Arak’.
Dia berkata dalam hatinya, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau buat malu aku di muka Umar, jangan Engkau buat rasa maluku dan tutupilah aku di hadapan Umar, maka aku tidak akan minum arak lagi untuk selamanya.”
Kemudian dia berkata, “Hai Amirul Mukminin, yang aku bawa ini adalah cuka.”
Umar berkata lagi, “Coba perlihatkan kepadaku sehingga aku dapat melihatnya.”
Lalu dia membukanya di hadapan Umar dan benarlah apa yang dilihat Umar adalah cuka. Renungkanlah, ada makhluk yang bertobat karena takut kepada makhluk yang lain, lalu Allah SWT merubah araknya menjadi cuka karena Dia mengetahui keikhlasan tobat dari orang itu. Apabila ada orang yang durhaka dan miskin dari perbuatan baik bertobat dari perbuatan-perbuatan yang jahat, dengan tobat yang benar (sungguh-sungguh) dan dia menyesali dosanya, Allah akan merubah arak ibarat amal kejahatannya menjadi cuka ibarat ketaatan.
Jadilah Wanita Bahagia

   Disebutkan dari Abu Hurairah r.a berkata, “Aku pernah keluar suatu malam setelah aku menunaikan shalat isya’ akhir (Isya’ awal adalah Maghrib dan Isya’ akhir shalat isya’) bersama Rasulullah SAW. tiba-tiba ada seorang perempuan di tengah jalan, dia berkata, ‘Hai Abu Hurairah, sesungguhnya aku telah melakukan sebuah dosa maka apakah berguna bagiku kalau bertobat?’
Aku berkata, ‘Engkau telah celaka dan membuat caelaka. Demi Allah tidak ada tobat bagimu.’
Pingsanlah perempuan itu dan terjerembab, kemudian aku berlalu sambil berkata dalam hati, aku berfatwa sementara Rasulullah SAW ada di tengah-tengah kami, maka aku kembali kepada beliau dan aku ceritakan hal itu kepadanya.
Beliau bersabda, ‘Celakalah engkau dan mencelakakan.’
Bagaimana pendapatmu dengan ayat ini:
“Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah … maka kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebajikan.”
(QS. Al-Furqan:68-70)
Al-Matjar Raabih

   Lalu keluarlah aku dan bertanya kesana kemari, ‘Siapakah yang dapat menunjukkan aku kepada perempuan yang telah bertanya sebuah masalah padaku?’
Anak-anak kecil sampai berucap, ‘Gila Abu Hurairah’, tetapi akhirnya aku menemukannya juga dan aku kabarkan padanya tentang ceritaku dengan Rasulullah itu. Tersedu-sedu dia karena gembiranya dan berkata, ‘Sesungguhnya aku memiliki sebuah kebun dan aku sedekahkan untuk Allah dan utusan-Nya’.
   Ada sebuah cerita dari Utbah Al-Ghulam, dia dari golongan ahli fasik yang menyimpang dan sangat terkenal kebejatannya, dan kegemaran minum araknya. Pada suatu hari dia masuk dalam majelis taklim Hasan Al-Bishri yang sedang membaca tafsir dari firman Allah: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (QS. Al-Hadid:16)
Tuhfatul Arusy

   Yakni tidakkah datang waktu di mana hati mereka merasa takut?
Pada saat itu Syaikh Hasan memberikan nasihat dalam menafsirkan ayat ini dengan nasihat yang dalam, sehingga membuat orang-orang menangis. Lalu berdirilah seorang pemuda dari mereka dan berkata, “Wahai orang yang bertakwa dari sekalian orang-orang mukmin, adakah Allah SWT akan menerima orang fasik dan lemah seperti aku ini apabila mau bertobat?”
Syaikh Hasan berkata, “Ya, Allah akan menerima tobat dari kefasikanmu dan kebejatanmu.”
Setelah Utbhal-Ghulam mendengar pembicaraan ini, menjadi pucatlah wajahnya, bergetar semua persendiannya dan berteriak dengan sekali teriakan lalu roboh pingsan. Ketika dia siuman, Hasan menghampirinya dan mengatakan bait-bait ini:
“Wahai pemuda yang durhaka kepada Tuhan yang memiliki Arasy, tahukah engkau apa balasan orang-orang yang berbuat durhaka? Neraka Sa’ir bagi orang-orang durhaka, dia mempunyai suara nyala api dan kegeraman pada saat ubun-ubun dipegang. Kalau engkau tabah menghadapi neraka-neraka itu, berbuatlah durhaka. Kalau tidak jadikanlah dirimu orang yang menjauhi maksiat. Dengan kesalahan-kesalahan yang telah engkau lakukan itu, berarti engkau telah menggadaikan diri, maka bersungguh-sungguhlah dalam membebaskan dirimu.”
Bergabunglah bersama kami dalam perdagangan Nasional
   Sekali lagi Utbah berteriak dan kali ini lebih keras, serta roboh pingsan. Ketika telah siuman dia berkata, “Ya Syaikh, apakah betul Tuhan Yang Maha Penyayang akan menerima tobat orang seperti aku yang sangat tercela ini?”
Syaikh Hasan menjawab, “Tidak ada yang dapat menerima tobat orang yang menyimpang kecuali Tuhan Yang Maha Memaafkan.”
Kemudian Utbah mengangkat kepalanya dan berdoa tiga buah doa.
·         Pertama dia berdoa, “Tuhanku, kalau Engkau menerima tobatku dan mengampuni dosa-dosaku, maka muliakanlah aku dengan kefahaman dan hafalan sehingga aku dapat menghafal semua yang aku dengar baik ilmu atau Al-Qur’an.”
·         Kedua dia berdoa, “Tuhanku, muliakanlah aku dengan suara yang indah sehingga setiap orang yang mendengar bacaanku menjadi bertambah lembut hatinya, walaupun dia seorang yang keras membatu hatinya.”
·         Ketiga dia berdoa, “Tuhanku, karuniakanlah kepadaku rezeki yang halal dan berilah aku rezeki dari arah yang tidak aku sangka.”
Tanbihul Ghafilin

  Akhirnya Allah mengabulkan semua doanya sehingga bertambahlah tingkat pemahaman dan hafalannya, kalau dia membaca Al-Qur’an bertobatlah di dalam rumahnya sepiring kuah dan dua buah roti tetapi tidak diketahui seorang pun yang telah menaruhnya. Hal ini berlangsung terus sampai dia berpisah dengan dunia.
Demikianlah keadaan orang yang benar-benar kembali kepada Allah SWT, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang baik dalam amalnya.
   Ada sementara ulama ditanya, “Apakah seorang hamba yang bertobat dapat mengerti, bahwa tobatnya diterima atau di tolak?”
Dia menjawab, “Tidak ada kepastian di dalam hal itu, tetapi ada tanda-tanda ke arah itu, yaitu:
1.       Dia akan melihat dirinya terhindar dari maksiat.
2.       Dia akan melihat kegembiraan jauh dari hatinya dan melihat Tuhan dekat disana.
3.       Dia akrab dengan orang-orang yang memiliki kebaikan dan jauh dari orang-orang yang memiliki kefasikan. Akhirnya dia melihat dunia yang sedikit menjadi banyak dan menganggap sedikit pada amal akhirat yang cukup banyak.
4.       Dia akan melihat hatinya sibuk dengan apa yang diwajibkan Allah padanya.
5.      Dia selalu memelihara lidahnya, melanggengkan berpikir dan selalu susah serta menyesali dosa-dosa yang terlanjur dia langgar.”