Sunday, September 25, 2016

Kelengahan

   Kelengahan menambah pernyesalan, kelengahan menghilangkan kenikmatan dan menghalangi penghambaan (kepada Allah), kelengahan menambah kedengkian dan kelengahan akan menambah cela dan kekecewaan. Diceritakan sesungguhnya ada sebagian orang-orang saleh bermimpi melihat gurunya di dalam tidur, dia bertanya kepada gurunya itu, “Manakah penyesalan terbesar menurut engkau?” Dia menjawab, “Penyesalan akibat kelangahan.”
Mukasyafatul Qulub
   Diriwayatkan juga sesungguhnya sebagian mereka bermimpi melihat Dzun Nun Al-Mishri di dalam tidurnya, berkatalah orang itu, “Apa yang diperbuat Allah padamu?” Dzun Nun menjawab, “Dia telah mendudukkan aku di hadapan-Nya dan berfirman kepadaku, “Hai orang yang mengaku-aku, orang yang bohong, engkau mengaku cinta Aku kemudian engkau lengah dari Aku.”

“Engkau tetap di dalam kelengahan dan hatimu lupa, hilanglah umur tetapi dosa-dosa tetap seperti keadaannya.”
   (Hikayah) Bahwasanya  ada seorang laki-laki dari orang-orang yang saleh melihat ayahnya dalam tidurnya, dia bertanya, “Hai ayahku, bagaimana keadaanmu?” Ayahnya menjawab, “Kami hidup di dunia dalam keadaan lengah, mati pun dalam keadaan lengah.”

   Di dalam kitab Zahri Riyadh disebutkan, Nabi Ya’kub bersaudara dengan malaikat maut dan suatu ketika malaikat maut datang mengunjunginya.
Ya’kub berkata kepadanya, “Hai malaikat maut, engkau datang mengunjungi aku atau perlu mencabut nyawaku?”
Jawabnya, “Aku datang berkunjung.”
Ya’kub berkata, “Aku minta engkau mau memenuhi sebuah hajatku.”
Malaikat maut bertanya, “Apa itu?”
Ya’kub berkata, “Agar engkau memberitahuankan padaku apabila telah dekat ajalku dan engkau mau mencabut nyawaku.”
Malaikat maut berkata, “Ya, akan aku kirimkan dua atau tiga orang utusan.”
Ketika sampai ajalnya, datanglah malaikat mati padanya dan Ya’kub bertanya seperti biasa, “Apakah kamu hanya berkunjung atau untuk mencabut nyawaku?”
Dia menjawab, “Untuk mencabut nyawamu.”
Bertanya lagi Ya’kub, “Bukankah engkau telah mengabarkan padaku bahwa engkau akan mengirimkan dua atau tiga orang utusan?”
Malaikat maut berkata, “Telah aku lakukan itu. Keputihan rambutmu setelah hitam sebelumnya, kelemahan tubuhmu setelah kuat sebelumnya dan kebongkokan tubuhmu setelah tegak sebelumnya, semua itu utusanku pada anak Adam sebelum mati, hai Ya’kub.”
Kesuksesan Anda dimulai hari ini bersama kami
“Waktu dan hari-hari telah berlalu, sedang dosa telah berhasil (menyelimuti) dan utusan maut telah datang, sementara hati dalam keadaan lengah. Kenikmatanmu di dunia adalah tipuan dan penyesalan, kehidupanmu di dunia adalah kemustahilan dan kebatilan.”

   Abu Ali Ad-Daqaq berkata, Aku pernah masuk ke rumah orang yang saleh, dan mengunjunginya dalam keadaan sakit. Dia adalah termasuk di antara masayik besar yang dikerumuni beberapa orang muridnya. Dia sedang menangis dan dia telah sampai batas umur terendah.
Aku bertanya, “Wahai Tuan, mengapa engkau menangis? Apakah karena urusan dunia?”
Dia menjawab, “Bukan itu, tetapi karena terbengkalainya shalatku.”
Aku berkata, “Bagaimana itu dapat terjadi, sedang engkau adalah orang yang rajin menjalankan shalat?”
Dia berkata, “Karena keadaanku tetap dalam hari ini, aku tidak sujud, kecuali dalam kelengahan serta tidak mengangkat kepalaku, kecuali dalam keadaan lengah. Inilah aku akan mati dalam keadaan lengah pula”. Kemudian dia meniup beberapa debu dan bersyair:
“Aku berfikir tentang ditemukannya aku dengan hari kiamatku serta terjadinya pipiku bertempat di dalam kubur. Seorang diri setelah sebelumnya mulia dan luhur, semua itu digadaikan dengan dosaku sedang debu adalah bantalku. Aku berfikir tentang panjang dan lebarnya hisab serta tentang kehinaan kedudukanku waktu aku diberi catatan amalku. Tetapi harapanku kepadamu Ya Tuhanku dan Penciptaku, semoga Engkau mengampuni kesalahanku Ya Tuhanku.”


   Di dalam kitab Uyunil Akhbar disebutkan dari Syaqiq Al-Balkhi, sesungguhnya dia berkata, “Manusia mengatakan tiga ucapan dan mereka benar-benar mengingkari ucapan itu dalam perbuatannya.”
Mereka berkata, “Kami adalah hamba-hamba Allah.”
Tetapi mereka berbuat sepeti pebuatan orang-orang merdeka dan ini adalah menyalahi ucapannya.
Mereka berkata, “Allah menanggung semua rezeki kami.”
Tetapi tidaklah tenang hatinya kecuali dengan dunia dan mengumpulkan kekayaannya.
Ini adalah menyalahi ucapan mereka juga.
Terakhir mereka mengatakan, “Kematian adalah suatu hal yang pasti.”
Tetapi mereka melakukan perbuatan orang-orang yang seolah-olah tidak akan mati. Ini juga menyalahi ucapan mereka.
   Maka berfikirlah wahai saudaraku, dengan tubuh yang mana engkau akan menghadap ke haribaan Allah SWT, dan dengan lidah yang mana engkau akan menjawabnya? Apa yang akan engkau katakan, kalau Dia bertanya mengenai sesuatu dari yang sedikit sampai yang banyak?
Jawaban yang benar untuk pertanyaan itu siapkanlah. “Takutlah kepada Allah, sesungguhnya Dia adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Yang baik maupun yang jahat lalu berikan nasihat kepada orang-orang mukmin agar tidak meninggalkan perintah-Nya dan mereka meng-Esakan-Nya dalam keadaan terang atau samar.

   Nabi Muhammad SAW bersabda, tertulis pada tiang Arasy, “Aku menuruti orang yang taat kepada-Ku, kucintai orang yang mencintai-Ku, kukabulkan orang yang berdoa pada-Ku dan mengampuni orang yang memohon ampun kepada-Ku.”

  Maka seharusnyalah bagi seorang yang berakal untuk taat kepada Allah dengan rasa takut dan ikhlas, ridha dengan qadha’-Nya, sabar atas cobaan-Nya dan bersyukur atas nikmat-Nya serta menerima pemberian-Nya.
Allah SWT berfirman: “Barangsiapa yang tidak ridha dengan qadha’-Ku, tidak sabar atas cobaan-Ku, tidak bersyukur atas nikmat-Ku dan tidak menerima pemberian-Ku, maka hendaklah ia mencari Tuhan selain Aku.”


   Ada seorang laki-laki berkata kepada Hasan Al-Bashri, “Sesungguhnya aku tidak menemukan kenikmatan taat kepada Allah.”
Berkatalah Hasan padanya, “Mungkin engkau melihat wajah orang yang tidak takut kepada Allah, pengabdian adalah membuang jauh semua hal dan hanya demi Allah semata.”

   Juga ada seorang laki-laki berkata kepada Abu Yazid, “Sesungguhnya aku tidak menemukan kelezatan taat kepada Allah.”
Dia menjawab, “Karena engkau mengabdi kepada ketaatannya itu dan bukan mengabdi kepada Allah, mengabdilah kepada Allah sehingga engkau menemukan kenikmatan dalam taat kepada Allah.”

   Bahwasanya ada seorang laki-laki yang melakukan shalat, setelah sampai pada bacaan ‘Iyyaka na’budu’  terlintaslah dalam hatinya bahwa dia mengabdi kepada Allah dalam arti sebenarnya. Dipanggillah dia dalam batin, “Bohong engkau, sebenarnya engkau mengabdi kepada makhluk.”
Lalu bertobatlah dia dan menjauhkan diri dari manusia. Kemudian dia melakukan shalat lagi dan setelah sampai bacaan ‘Iyyaka na’budu’, dipanggillah dia, “Bohong engkau, sebenarnya engkau mengabdi kepada hartamu.”
Lalu disedekahkan semua harta bendanya. Kemudian dia shalat lagi, setelah sampai bacaan ‘Iyyaka na’budu’ dia dipanggil, “Bohong engkau, sebenarnya engkau mengabdi kepada pakaianmu.”
Dia juga menyedekahkan pakaian itu kecuali apa yang dipakainya. Kemudian dia bertindak dalam shalat lagi, dan ketika sampai bacaan ‘Iyyaka na’budu’ dipanggillah dia, “Sekarang engkau benar, sesungguhnya engkau mengabdi kepada Allah Tuhanmu.”

   Di dalam kitab Raunaqil-Majalis, dikisahkan seorang laki-laki yang kehilangan beberapa jawaliq-nya (tempat barang),  dia tidak tahu siapa yang telah mengambilnya. Ketika dia masuk dalam shalat, dia teringat orang yang mengambilnya. Setelah salam dia berkata kepada budak pelayannya, “Pergilah kepada Fulan bin Fulan dan mintalah kembali jawaliq itu darinya.”
Berkatalah pelayannya, “Kapan engkau mengingatnya?”
Dia berkata, “Tadi ketika aku shalat.”
Lalu berkata pelayan itu, “Wahai Tuanku, engkau adalah orang yang telah mencari jawaliq, bukan mencari Tuhan Pencipta.”

 Maka seyogyanya bagi orang yang berakal meninggalkan dunia, mengabdi kepada Allah dan memikirkan masa depannya serta menghendaki akhirat.
Allah SWT berfirman: “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan akhirat, maka akan Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan dunia, kelezatan-kelezatannya berupa pakaian, makanan dan minumannya, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia itu dan tidaklah ada baginya suatu bagian di akhirat. Yaitu dicabut dari hatinya cinta kepada akhirat.” (QS.Asy-Syura:20)
                                                                                                                                                                   
   Karena itulah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA sampai menginfakkan kepada Nabi Muhammad SAW empat puluh ribu dinar secara tersembunyi dan empat puluh ribu lagi secara terang-terangan sehingga tidak tersisa padanya sesuatu pun. Nabi Muhammad SAW dan keluarganya adalah orang yang berpaling dari dunia, kesenangannya dan kelezatannya. Karena itulah pelaminan tuan putri Fatimah Az-Zahra’ RA waktu Nabi Muhammad SAW mengawinkan dengan Ali adalah hanya kulit domba yang disamak dan bantal kulit binatang yang diisi sabut.


Artikel Menarik yang lainnya:
1. Takut
2. Takut Kepada Allah
3. Sabar dan Sakit
4. Riyadhan dan Kesenangan Nafsu
5. Kemenangan Nafsu dan Permusuhan Setan
6. Kelengahan
7. Lupa Kepada Allah, Kefasikan dan Kemunafikan
8. Tobat
9. Kecintaan
10. Rindu
11. Taat Kepada Allah, Mencintai-Nya dan Mencintai utusannya Nabi Muhammad SAW
12. Iblis dan Siksanya
13. Amanat
14. Menyempurnakan Shalat Dengan Khudu’ dan Khusyu’
15. Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar
16. Setan
17. Amanat dan Tobat
18. Keutamaan Kasih Sayang
19. Khusyu’ dalam Shalat
20. Menggunjing dan Mengadu Domba
21. Zakat
22. Zina
23. Silatur Rahmi dan Hak-hak Kedua Orang Tua
24. Berbakti Kepada Orang Tua
25. Zakat dan Kekikiran
26. Angan-angan yang Muluk
27. Menjalankan Taat dan Meninggalkan Perbuatan Haram
28. Ingat Mati
29. Beberapa Langit dan Jenis-jenis yang berbeda
30. Kursi dan Arasy, Malaikat Muqorrobin, Rezeki dan Tawakal
31. Di Dalam Meninggalkan Duniawi dan Tercelanya Apa yang Ada Di Dalamnya
32. Tercelanya Dunia

No comments:

Post a Comment