Showing posts with label Dibalik Ketajaman Mata Hati. Show all posts
Showing posts with label Dibalik Ketajaman Mata Hati. Show all posts

Sunday, September 25, 2016

Tertawa, Menangis dan Pakaian

Tertawa, Menangis dan Pakaian
   Sebagian ulama ahli tafsir berkata mengenai firman Allah SWT:
“Maka apakah kamu merasa heran dengan mendustakan terhadap permberitaan ini yaitu Al-Qur’an. Dan kamu menertawakannya dengan meremahkan, padahal dia adalah dari Allah SWT. Dan kamu tidak menangis karena takut dan menjadi jera karena ancaman yang ada di dalamnya. Sedang kamu melengahkan(nya) lengah dan lupa dari apa yang ada yang dituntut dari kamu.” (QS. An-Najm:59-61)

   Ahli tafsir itu berkata, “Setelah turun ayat ini tidak pernah Nabi tertawa, kecuali hanya tersenyum.” Dalam sebuah riwayat dikatakan, “Lalu tidak pernah Nabi Muhammad SAW tertawa dan tidak pula tersenyum sampai beliau meninggalkan dunia.”
Dari Ibnu Umar ra, berkata, “Nabi Muhammad SAW pernah keluar pada suatu hari dari masjid. Pada saat itu sekelompok manusia sedang bercakap-cakap dan tertawa. Lalu beliau berhenti dan memberi salam pada mereka. Kemudian beliau keluar setelah menghacurkan semua kesenangan.” Kemudian beliau keluar pada waktu yang lain. Pada saat itu sebuah kaum lagi sedang tertawa. Beliau bersabda: “Ingat! Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandarinya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, tentu kamu akan tertawa sedikit dan tentu akan menangis banyak.”

BERSAMBUNG…
(halaman ini masih dalam tahap pengetikan)

Keutamaan Baik Budi Pekerti

Keutamaan Baik Budi Pekerti
   Allah SWT berfirman kepada Nabi-Nya, dan kekasih-Nya dengan memuji kepadanya dan memperlihatkan nikmat-Nya di hadapannya:
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
 (QS. Al-Qalam:4)

  Aisyah ra berkata, “Budi pekerti Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an.”
Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai kebaikan budi pekerti. Lalu beliau membaca firman Allah SWT:
“Jadilah kamu pemaaf dan serulah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.” (QS.Al-A’raf:199)

Kemudian beliau bersabda, “Ia adalah kamu harus menyambung orang yang memutusmu, memberi orang yang memutusmu, memberi orang yang menghalangimu dan memafkan orang yang menganiayamu.”
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia.”
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Yang paling berat diantara apa yang diletakkan di timbangan amal pada hari kiamat adalah takwa kepada Allah dan kebaikan budi pekerti.”
Seorang laki-laki datang menghadap kepada Rasulullah SAW,
dia berkata, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?”
Beliau bersabda: “Kebaikan budi pekerti.”
Kemudian dia datang dari arah kiri beliau dan berkata, “Apakah agama itu?”
Beliau bersabda: “Kebaikan budi pekerti.”
Kemudian dia datang dari arah belakang beliau dan berkata,
“Ya Rasulullah, apakah agama itu?”
Lalu beliau menoleh padanya dan berkata,
“Tidakkah kamu paham, dia (beragama) jangan sampai kamu marah.”
Dan ditanyakan kepada beliau, “Ya Rasulullah, apakah kecelakaan itu?”
Beliau bersabda: “Keburukan budi pekerti.”
Seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah SAW, “Berilah wasiat kepadaku.”
Beliau bersabda: “Bertakwalah kepada Allah di mana saja kemu berada.”
Dia berkata lagi, “Tambahkanlah kepadaku”
Beliau bersabda: “Susullah kejahatan dengan kebaikan, tentu kebaikan itu akan menghapusnya.”
Laki-laki itu berkata, “Tambahkanlah kepadaku.”
Beliau bersabda: “Pergaulilah manusia dengan budi pekerti yang baik.”
Nabi Muhammad SAW pernah ditanya, “Manakah amal yang lebih utama?”
Beliau menjawab: “Budi pekerti yang baik.”
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidaklah Allah menjadikan baik kejadian seorang hamba dan budi pekertinya, lalu dia dimakan neraka”
Fudhail berkata, dikatakan kepada Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Fulanah berpuasa siang dan berdiri malam (shalat malam), sedang dia perempuan yang berbudi jelek. Dia menyakiti tetangga dengan mulutnya.”
Beliau bersabda: “Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka.”
Abu Darda’ berkata, Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Pertama kali yang diletakkan dalam timbangan amal adalah kebaikan budi pekerti dan kemurahan hati. Dan ketika Allah telah menciptakan iman, berkatalah dia, ‘Ya Allah, kuatkanlah aku’.”
Lalu Allah SWT menguatkannya dengan kebakhilan dan keburukan budi pekerti.
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah telah memurnikan agama ini kepada Zatnya dan tidak patut untuk agamamu kecuali kemurahan hati dan kebaikan budi pekerti. Ingat! Hiasilah agamamu dengan keduanya.”
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Kebaikan budi pekerti adalah pekerti Allah yang agung.”
Dikatakan, “Ya Rasulullah, manakah di antara orang-orang muknin yang lebih utama keimanannya?”
Beliau bersabda: “Yang paling baik budi pekertinya.”
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya kamu tidak akan menguasai manusia dengan harta-hartamu. Maka kuasailah mereka dengan kecerahan wajah dan kebaikan budi pekerti.”
Nabi Muhammad SAW juga bersabda: “Keburukan budi pekerti akan merusakkan madu.”

BERSAMBUNG…
(halaman ini masih dalam tahap pengetikan)

Siksaan Ulama Dunia

Siksaan Ulama Dunia
Mukasyafatul Qulub
     Kami maksudkan dengan ulama dunia adalah ulama jahat yang tujuan ilmunya untuk kemewahan dunia dan sebagai jembatan untuk mendapatkan kemuliaan dan kedudukan di hadapan pemilik-pemilik dunia.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Sesungguhnya manusia yang paling berat siksanya pada hari kiamat adalah orang alim yang Allah tidak memberi manfaat kepada ilmunya.”
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Seseorang tidak menjadi alim sehingga dia mengamalkan ilmunya.”
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Ilmu itu ada dua macam, yaitu ilmu lisan. Itu adalah hujjah Allah SWT atas makhluk-Nya. Dan ilmu dalam hati itulah ilmu yang bermanfaat.”
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Akan ada pada akhir masa nanti orang-orang beribadah yang bodoh dan ulama yang menyimpang.”
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Janganlah kamu belajar ilmu untuk membanggakan diri kepada para ulama, untuk berdebat kepada orang-orang bodoh dan untuk memalingkan wajah-wajah manusia kepadamu. Barangsiapa yang melakukan itu, maka dia dalam neraka.”
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Barangsiapa yang menyembunyikan sebuah ilmu yang ada di sampingnya, maka Allah akan mengendalinya dengan kendali dari api neraka.”
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Sungguh aku lebih mengkhawatirkan dari selain Dajjal atas kamu daripada Dajjal.” Lalu ditanyakan kepada beliau, “Apa itu?” beliau bersabda: “Yaitu pemimpin-pemimpin yang menyesatkan.”
Nabi Muhammad SAW bersabda”
“Barangsiapa yang bertambah-tambah ilmunya, tetapi tidak bertambah mendapat petunjuk, maka dia tidak bertambah (dekat) kepada Allah kecuali lebih jauh.”
Isa AS berkata, “Sampai kapan kamu menuturkan sifat jalan pada orang-orang yang mengadakan perjalanan malam, sedang kamu sendiri tetap tinggal bersama orang-orang kebingungan?”
   Semua ini dan hadis-hadis yang lain menunjukkan tentang kegawatan besar ilmu. Karena seorang alim ada kalanya dia mengajukan dirinya kepada kebinasaan untuk selamanya atau kepada keberuntungan untuk selamanya. Dan sesungguhnya dia dengan terjun dalam ilmu benar-benar dihalangi dari keselamatan kalau tidak menemukan keberuntungan.

   Umar r.a juga berkata, “Sesungguhnya sesuatu yang paling aku khawatirkan di antara hal-hal yang aku khawatirkan terhadap umat ini adalah orang munafik yang alim.”
Mereka bertanya, “Bagaimana orang munafik dapat menjadi orang yang alim?”
Dia berkata, “Alim dalam lidahnya dan bodoh hati dan amalnya.”
Hasan berkata, “Janganlah kamu menjadi orang yang mengumpulkan ilmu dari ulama dan mutiara-mutiara hikmah dari hukama, tetapi kamu berjalanlah dalam amal seperti perjalanan orang-orang bodoh saja.”

Seorang laki-laki berkata kepada Abu Hurairah, “Aku ingin mempelajari ilmu tetapi aku khawatir kalau menyia-nyiakannya.”
Abu Hurairah berkata, “Cukuplah disebut meninggalkan ilmu bila menyia-nyiakannya.”

Dikatakan kepada Ibrahim bin Uyainah, “Manakah manusia yang lebih panjang penyesalannya?”
Dia berkata, “Kalau dia di dunia yang sekarang ini berbuat makruf kepada orang yang tidak mau mensyukurinya. Kalau setelah mati, dia orang alim yang sembrono (bersalah).”
Al-Khalil bin Ahmad berkata, “Laki-laki ini ada empat orang.
1.       Laki-laki yang mengetahui dan dia mengetahui bahwa dirinya mengetahui. Itu adalah orang alim, maka ikuti dia.
2.       Laki-laki yang mengetahui, tetapi dia tidak mengetahui bahwa dirinya mengetahui. Itu adalah orang yang tidur, maka bangunkanlah dia.
3.       Laki-laki yang tidak mengetahui dan mengetahui bahwa dirinya tidak mengetahui. Itu adalah orang yang menginginkan petunjuk kebenaran, maka tunjukanlah dia.
4.       Laki-laki yang tidak mengetahui dan tidak mengetahui bahwa dirinya tidak mengetahui. Itu adalah orang bodoh, maka buanglah (tinggalkanlah) dia.”

Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Ilmu itu bersuara menuntut amal, kalau orang memenuhinya, dia akan betah tinggal dan kalau tidak dia akan pergi.”
Ibnul Mubarak berkata, “Tidak henti-hentinya seseorang alim selagi dia mau menuntut ilmu. Lalu apabila dia menyangka bahwa dirinya benar-benar telah alim, maka dia benar-benar bodoh,”
Fuadhail bin Iyadh berkata, “Sesungguhnya aku benar-benar kasihan terhadap tiga orang. Bangsawan, suatu kaum yang telah menjadi hina, orang kaya dari suatu kaum yang telah menjadi fakir dan orang alim yang dipermainkan dunia.”
Al-Hasan berkata, “Siksaan ulama adalah kematian hati, sedang kematian hati adalah mencari dunia dengan perbuatan akhirat.”
Mereka bersyair:
“Aku heran terhadap orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk sedang orang yang membeli dunianya dengan agama adalah lebih mengherankan. Tetapi lebih mengherankan dari dua orang ini adalah orang yang menjual agamanya dengan dunia orang lain, maka dia lebih mengherankan daripada dua orang sebelumnya.”

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya ada orang alim benar-benar disiksa dengan sebuah siksa, dan mengelilinginya penghuni-penghuni neraka karena menganggap besar kepada kedahsyatan siksanya.”
Yang dimaksud beliau dengan orang itu ialah orang alim yang fajir (menyimpang).
Usamah bin Zaid berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Akan didatangkan seorang alim pada hari kiamat, lalu dilemparkan ke dalam neraka. Terburailah usus-ususnya, lalu dia berkeliling dengan menyeretnya, sebagaimana seekor keledai berputar membawa penggilingan. Berkerumunlah penghuni neraka padanya dan mereka berkata, “Mengapa kamu ini?” dia berkata, “Aku telah memerintahkan kebaikan dan aku sendiri tidak melakukannya.” Sesungguhnya siksaan orang alim dalam maksiatnya dilipat-gandakan karena dia maksiat disertai pengertian.”
Tuhfatul Arusy

Karena itulah Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka.” (QS. An-Nisa’:145)
Karena mereka mengingkari setelah mengetahui. Dan Dia menjadikan orang-orang Yahudi lebih jahat daripada orang-orang Nasrani. Padahal mereka tidak menjadikan anak bagi Allah SWT dan tidak pula mereka mengatakan, “Sesungguhnya Allah adalah ketiga dari Tuhan tiga.” Hanya saja, mereka mengingkari setelah makrifat lebih dahulu.
Karena Allah SWT berfirman:
“Mereka mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri.” (QS. Al-Baqarah: 146)

Dan Allah SWT berfirman:
“Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah atas orang-orang yang ingkar.” (QS. Al-Baqarah:89)
Allah SWT berfirman mengenai kisah Bal’am bin Ba’ura:
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda) maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.” (QS. A’raf:175)

Sehingga Dia berfirman:
“Maka perumpamaan seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya juga.” (QS. Al-A’raf:176)

Demikianlah orang alim yang fajir, karena sesungguhnya Bal’am telah diberi Kitab Allah, lalu dia cenderung kepada kesenangan-kesenangan nafsu. Bal’am lalu diumpamakan dengan anjing. Yakni sama saja, baik dia diberi hikmah atau tidak dia akan tetap menjulurkan lidah (maju) kepada kesenangan nafsu.
Isa a.s berkata, “Perumpamaan ulama yang jahat seperti sebuah batu yang jatuh pada mulut sungai. Tidaklah dia menyerap air dan tidak pula dia membiarkan air lolos menuju ke arah tanaman.”

Keutamaan Shalat Malam

Keutamaan Shalat Malam
   Firman Allah SWT:
“Sesungguhnya Tuhan mengetahui bahwasanya kamu berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam…” (QS. Al-Muzammil:20)
   Firman Allah SWT:
“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al.Muzammil:6)
   Firman Allah SWT:
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya.” (QS. As-Sajdah:16)
   Firman Allah SWT:
“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam…” (QS. Az-Zumar:9)
   Firman Allah SWT:
“Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS. Al-Furqan:64)
Dan juga firman Allah SWT:
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.” (QS. Al-Baqarah:45)

BERSAMBUNG…
(halaman ini masih dalam tahap pengetikan.)

Keutamaan Shalat Berjamaah

Keutamaan Shalat Berjamaah
   Nabi Muhammad SAW bersabda, “Shalat berjamaah mengalahkan shalat sendirian dengan duapuluh tujuh derajat.”
Abu Hurairah ra. Meriwayatkan, sesungguhnya Nabi Muhammad SAW pernah kehilangan manusia (makmum) dalam shalat. Beliau bersabda, “Sungguh aku telah bermaksud memerintahkan seorang laki-laki yang shalat (sebagai imam) dengan manusia. Kemudian aku sendiri akan berpaling menuju orang-orang yang tertinggal (tidak mengikuti)nya dan membakar rumah-rumah mereka.”
Di dalam sebuah riwayat yang lain. “Kemudian aku berpaling menuju beberapa laki-laki yang tertinggal. Lalu aku perintahkan mereka membakar rumah-rumah dengan seikat kayu api. Dan seandainya seorang dari mereka mengetahui akan menemukan tulang bersamin atau (makan) dua buah kaki unta yang dibakar, tentu dia akan menghadirinya.” Yakni Shalat Isya’
Usman ra berkata dengan marfu’, “Barangsiapa yang menghadiri shalat Isya, maka seakan-akan dia telah berdiri beribadah setengah malam dan barangsiapa yang menghadiri shalat Shubuh, maka seakan-akan dia  berdiri beribadah semalam.”
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiap yang shalat berjamaah, maka benar-bear dia telah memenuhi lautannya dengan ibadah.”

BERSAMBUNG…
(halaman ini masih dalam tahap pengetikan,)

Lupa Kepada Allah, Kefasikan dan Kemunafikan

Lupa Kepada Allah, Kefasikan dan Kemunafikan
 
Mukasyafatul Qulub
  Datang seorang perempuan kepada Hasan Al-Bashri ra, berkatalah dia, “Sesungguhnya anak perempuanku yang masih sangat muda telah mati dan aku ingin untuk melihatnya di dalam tidur. Maka aku datang kepadamu agar kau ajarkan kepadaku apa yang dapat aku jadikan perantara untuk melihatnya.”
Lalu Hasan Al-Bashri mengajarkannya kepada perempuan itu, dan dia pun dapat bermimpi melihat anaknya terikat. Diceritakanlah hal itu kepada Hasan dan ia pun bersedih karenanya. Berselang beberapa waktu Hasan bermimpi melihatnya berada di dalam surga dan di atas kepalanya terdapat mahkota, lalu dia berkata, “Hai Hasan, tidakkah engkau mengenalku? Aku adalah anak putri dari perempuan yang datang padamu dahulu dan mengatakan begini kepadamu.”
Berkatalah Hasan kepadanya, “Apa yang menjadikanmu dalam keadaan yang kulihat ini?”
Dia menjawab, “Ada seorang laki-laki lewat pada kami, dia membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sekali sedang dalam kuburan itu ada lima ratus lima puluh orang dalam siksaan. Lalu dipanggillah, “Hilangkanlah siksa dari mereka berkat bacaan shalawat laki-laki ini.”

   (faedah) sebab bacaan shalawat seorang laki-laki itu mereka mendapatkan ampunan, lalu kalau ada orang yang membaca shalawat padanya sejak lima puluh tahun, apakah dia tidak menemukan syafaatnya besok hari kiamat? Berfirman Allah SWT:
 “Janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah.”
(QS.Al-Hasyr:19)
   Maksudnya, janganlah kamu berbuat maksiat seperti orang-orang yang lupa kepada Allah SWT dengan meninggalkan perintah Allah dan mengerjakan larangan-Nya, serta asyik dengan kesenangan dunia dan terperangkap oleh tipu dayanya.
   Rasulullah SAW pernah ditanya tentang orang mukmin dan orang munafik, beliau bersabda: “Sesungguhnya orang mukmin adalah orang yang tujuan hidupnya adalah shalat dan berpuasa. Sedang orang munafik adalah orang yang tujuan hidupnya makan dan minum seperti binatang dan meninggalkan ibadah serta shalat. Orang mukmin disibukkan dengan sedekah dan mencari ampunan, sedang orang munafik disibukkan dengan kerakusan dan panjang angan-angan yang berlarut-larut. Orang mukmin putus harapan dari setiap orang kecuali Allah. Orang mukmin menyodorkan hartanya demi Allah, sedang orang munafik menyodorkan agamanya demi kepentingan hartanya. Orang mukmin merasa aman dari semua orang kecuali dari Allah, sedang orang munafik berbuat jahat tetapi masih bisa tertawa. Orang mukmin menanam dan khawatir kerusakkannya, sedang orang munafik mencabut dan mengharapkan panen. Terakhir orang mukmin akan memerintah dan melarang menurut siasat keagamaan serta berusaha berbuat kebaikan, sedang orang munafik memerintah dan melarang karena kepemimpinannya serta merusak, bahkan dia memerintah yang munkar dan melarang yang ma’ruf.”
Mari Jadikan Segalanya Lebih Mudah Lagi
   Allah SWT berfirman:
“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh berbuat munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik. Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan Neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah Neraka itu bagi mereka dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.” (QS. At-Taubah:67-68)

   Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Neraka Jahanam seluruhnya.”
Yakni kalau mereka mati dalam kekufuran dan kemunafikan mereka. (QS. An-Nisa’:140)
   Allah memulai dengan menyebutkan orang-orang munafik, karena mereka lebih jelek daripada orang kafir, tetapi menjadikan Neraka sebagai tempat mereka seluruhnya.
   Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu berada pada tingkat paling bawah dari Neraka, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisa’145)
   Kata munafik adalah diambil dari kata nafiqa’ul yarbu’ (liang binatang seperti tikus, kakinya lebih panjang dari tangannya, ekor dan telinganya lebih panjang kalau dibanding dengan tikus). Disebutkan bahwa yarbu’ memiliki dua buah liang, sebuah disebut natiqa’ dan sebuah lagi qashia’. Dan bisa menampakkan dirinya pada liang yang satu dan keluar dari yang lain. Karena itulah orang munafik disebut dengan munafik, sebab dia menampakkan dirinya sebagai seorang muslim, tetapi dia keluar dari islam itu ke arah kafir.
   Ada sebuah hadits, “perumpamaan orang munafik adalah seperti seekor kambing yang kau lihat berada di antara dua kelompok kawanan kambing. Suatu saat ia berjalan menuju kelompok yang ini dan pada saat lain ke arah kelompok yang lain, dia tidak menetap pada satu kelompok dari keduanya karena ia adalah kambing yang asing dan bukan dari golongan dua kelompok itu. Demikian juga dengan orang munafik, dia tidak menetap bersama kaum muslimin sepenuhnya dan juga tidak bersama orang-orang kafir.”
   Sesungguhnya Allah menciptakan Neraka yang memiliki tujuh buah pintu.
Allah SWT berfirman: “Neraka Jahanam itu memiliki tujuh buah pintu.”
(QS. Al-Hijr:44)
   Pintu itu dari besi yang dipenuhi dengan laknat. Bagian luarnya tembaga dan bagian dalamnya adalah timah, dasarnya terdapat siksa dan di atasnya terdapat kemurkaan, sedang buminya dari tembaga, kaca, besi dan timah. Api berada di atas penghuninya, di bawah mereka, di sebelah kanan dan kiri mereka. Setiap tingkat di atas tingkat yang lain dan Allah menyediakan bagi orang-orang munafik tingkat yang paling bawah dari tingkat-tingkat itu.

   Dalam sebuah hadis dijelaskan, sesungguhnya Jibril datang kepada Nabi Muhammad SAW, lalu Nabi bersabda, “Hai Jibril, sebutkanlah sifat Neraka dan panasnya padaku.”
Berkatalah Jibril, “Sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan Neraka lalu menyalakan selama seribu tahun sehingga menjadi merah, kemudian menyalakannya lagi seribu tahun sehingga menjadi hitam. Jadi ia adalah hitam kelam. Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan haq sebagai Nabi, seandainya sebuah pakaian dari pakaian-pakaian penghuni Neraka tampak oleh penduduk bumi dan dituangkan pada air dibumi tentu akan mati semua orang yang mencicipinya. Seandainya satu dzira’ dari rantai yang disebutkan Allah SWT dengan firman-Nya:
“Di dalam rantai, yang panjangnya tujuhpuluh dzira.” (QS. Al-Haaqqah:32)
Risalah Qusyairiyah

   Setiap dzira’ panjangnya sejauh jarak dunia timur sampai dunia barat, diletakkan di atas gunung-gunung dunia tentu akan hancur. Dan seandainya seorang laki-laki masuk Neraka kemudian dikeluarkan ke bumi, tentu penghuni-penghuni bumi ini akan mati karena kebusukan baunya.”
Rasulullah SAW bertanya kepada Jibril: “Ya Jibril, terangkanlah padaku sifat-sifat Jahanam. Adakah dia seperti pintu-pintu kami ini?”
Berkatalah Jibril, “Ya Rasulullah, tidak. Tetapi dia merupakan beberapa tingkat, sebagian lebih rendah dari yang lain. Jarak dari pintu yang satu ke pintu yang lain adalah sejauh perjalanan tujuh puluh tahun. Setiap pintu dari pintu-pintu itu lebih panas daripada pintu yang ada dibawahnya yaitu tujuh puluh kali lipat.”
Beliau bertanya pada Jibril tentang penghuni-penghuni dari pintu-pintu ini, dan dia menjawab, “Adapun yang terbawah adalah orang-orang munafik, namanya Neraka Al-Hawiyah.”
   Seperti firman Allah SWT:
“Sesungguhnya orang-orang munafik di dalam tingkat paling bawah dari Neraka.”
   Pintu kedua, di dalamnya terdapat orang-orang musyrik. Namanya adalah Neraka Jahim. Pintu ketiga, di dalamnya adalah orang-orang dari golongan shabi’in, adapun namanya adalah Neraka Saqir. Pintu keempat di dalamnya adalah iblis alaihilla’nah dan orang yang mengikutinya dari golongan Majusi, adapun namanya adalah Neraka Ladha. Pintu kelima, adalah untuk orang-orang Yahudi, adapun namanya adalah Neraka Al-Huthamah. Pintu keenam, di dalamnya adalah orang-orang Nasrani, adapun namanya adalah Neraka As-Sa’ir.”
Kemudian Jibril menahan pembicaraannya. Maka Rasulullah SAW bertanya,
“Mengapa tidak kau ceritakan tentang penghuni pintu ke tujuh?”
Berkatalah Jibril, “Jangan engkau bertanya padaku tentang itu, Ya Muhammad.”
Beliau bersabda pada Jibril, “Ceritakan padaku tentang penghuni itu.”
Berkata Jibril, “Di dalamnya adalah pemilik dosa-dosa besar dari umatmu yang telah mati dan belum bertobat.”
   Diriwayatkan, sesungguhnya ketika turun ayat firman Allah SWT:
“Dan tidak ada seorang pun dari kamu, melainkan mendatangi Neraka itu.” (QS. Maryam:71)
   Maka menjadi besarlah kekhawatiran Nabi Muhammad SAW terhadap umatnya dan beliau menangis dengan tangisan yang keras. Orang yang ma’rifat kepada Allah dan mengenal kekuasaan dan keperkasaan-Nya, tentu takut kepada-Nya dengan sepenuh rasa takut dan menangisi dirinya dan kesalahannya sebelum dia melihat penderitaan-penderitaan ini serta melihat nyata perkampungan yang menakutkan dan menyengsarakan. Juga sebelum semua bentuk tutup rahasia dirusak dan dia di hadapkan pada Tuhan yang melaksanakan siksa dan Maha Perkasa, lalu dia di perintahkan ke Neraka. Karena banyak pemuda memanggil-manggil di Neraka, ‘Aduh ubanku, aduh maluku, aduh terbukanya rahasiaku’. Benar-benar semua wajah dan tubuh menjadi hitam, punggung-punggung menjadi patah, orang-orang tua tidak dimuliakan dan anak-anak kecil pun tidak dikasihani serta perempuan pun tidak ditutupi. Ya Allah selamatkanlah kami dari Neraka dan siksanya serta dari semua amal perbuatan yang mendekatkan kami ke Neraka, dan masukkanlah kami ke dalam Surga bersama orang-orang yang berbuat baik dengan rahmat-Mu, Ya Tuhan Yang Maha Agung, Ya Tuhan Yang Maha Pengampun. Ya Allah, tutuplah cela-cela kami, berikanlah rasa aman dari ketakutan-ketakutan kami dan hindarkanlah kami dari kesalahan-kesalahan kami serta janganlah Engkau buat malu kami di hadapan-Mu, Ya Tuhan Yang Paling Menyayangi di antara orang-orang yang menyayangi. Semoga Allah mencurahkan rahmat atas tuan kami Muhammad, kepada keluarga da sahabatnya, serta memberi salam.

Artikel Menarik yang lainnya:

1. Takut
2. Takut Kepada Allah
3. Sabar dan Sakit
4. Riyadhan dan Kesenangan Nafsu
5. Kemenangan Nafsu dan Permusuhan Setan
6. Kelengahan
7. Lupa Kepada Allah, Kefasikan dan Kemunafikan
8. Tobat
9. Kecintaan
10. Rindu
11. Taat Kepada Allah, Mencintai-Nya dan Mencintai utusannya Nabi Muhammad SAW
12. Iblis dan Siksanya
13. Amanat
14. Menyempurnakan Shalat Dengan Khudu’ dan Khusyu’
15. Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar
16. Setan
17. Amanat dan Tobat
18. Keutamaan Kasih Sayang
19. Khusyu’ dalam Shalat
20. Menggunjing dan Mengadu Domba
21. Zakat
22. Zina
23. Silatur Rahmi dan Hak-hak Kedua Orang Tua
24. Berbakti Kepada Orang Tua
25. Zakat dan Kekikiran
26. Angan-angan yang Muluk
27. Menjalankan Taat dan Meninggalkan Perbuatan Haram
28. Ingat Mati
29. Beberapa Langit dan Jenis-jenis yang berbeda
30. Kursi dan Arasy, Malaikat Muqorrobin, Rezeki dan Tawakal
31. Di Dalam Meninggalkan Duniawi dan Tercelanya Apa yang Ada Di Dalamnya
32. Tercelanya Dunia