Sunday, September 25, 2016

Lupa Kepada Allah, Kefasikan dan Kemunafikan

Lupa Kepada Allah, Kefasikan dan Kemunafikan
 
Mukasyafatul Qulub
  Datang seorang perempuan kepada Hasan Al-Bashri ra, berkatalah dia, “Sesungguhnya anak perempuanku yang masih sangat muda telah mati dan aku ingin untuk melihatnya di dalam tidur. Maka aku datang kepadamu agar kau ajarkan kepadaku apa yang dapat aku jadikan perantara untuk melihatnya.”
Lalu Hasan Al-Bashri mengajarkannya kepada perempuan itu, dan dia pun dapat bermimpi melihat anaknya terikat. Diceritakanlah hal itu kepada Hasan dan ia pun bersedih karenanya. Berselang beberapa waktu Hasan bermimpi melihatnya berada di dalam surga dan di atas kepalanya terdapat mahkota, lalu dia berkata, “Hai Hasan, tidakkah engkau mengenalku? Aku adalah anak putri dari perempuan yang datang padamu dahulu dan mengatakan begini kepadamu.”
Berkatalah Hasan kepadanya, “Apa yang menjadikanmu dalam keadaan yang kulihat ini?”
Dia menjawab, “Ada seorang laki-laki lewat pada kami, dia membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW sekali sedang dalam kuburan itu ada lima ratus lima puluh orang dalam siksaan. Lalu dipanggillah, “Hilangkanlah siksa dari mereka berkat bacaan shalawat laki-laki ini.”

   (faedah) sebab bacaan shalawat seorang laki-laki itu mereka mendapatkan ampunan, lalu kalau ada orang yang membaca shalawat padanya sejak lima puluh tahun, apakah dia tidak menemukan syafaatnya besok hari kiamat? Berfirman Allah SWT:
 “Janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah.”
(QS.Al-Hasyr:19)
   Maksudnya, janganlah kamu berbuat maksiat seperti orang-orang yang lupa kepada Allah SWT dengan meninggalkan perintah Allah dan mengerjakan larangan-Nya, serta asyik dengan kesenangan dunia dan terperangkap oleh tipu dayanya.
   Rasulullah SAW pernah ditanya tentang orang mukmin dan orang munafik, beliau bersabda: “Sesungguhnya orang mukmin adalah orang yang tujuan hidupnya adalah shalat dan berpuasa. Sedang orang munafik adalah orang yang tujuan hidupnya makan dan minum seperti binatang dan meninggalkan ibadah serta shalat. Orang mukmin disibukkan dengan sedekah dan mencari ampunan, sedang orang munafik disibukkan dengan kerakusan dan panjang angan-angan yang berlarut-larut. Orang mukmin putus harapan dari setiap orang kecuali Allah. Orang mukmin menyodorkan hartanya demi Allah, sedang orang munafik menyodorkan agamanya demi kepentingan hartanya. Orang mukmin merasa aman dari semua orang kecuali dari Allah, sedang orang munafik berbuat jahat tetapi masih bisa tertawa. Orang mukmin menanam dan khawatir kerusakkannya, sedang orang munafik mencabut dan mengharapkan panen. Terakhir orang mukmin akan memerintah dan melarang menurut siasat keagamaan serta berusaha berbuat kebaikan, sedang orang munafik memerintah dan melarang karena kepemimpinannya serta merusak, bahkan dia memerintah yang munkar dan melarang yang ma’ruf.
Mari Jadikan Segalanya Lebih Mudah Lagi
   Allah SWT berfirman:
“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh berbuat munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik. Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan Neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah Neraka itu bagi mereka dan Allah melaknati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.” (QS. At-Taubah:67-68)

   Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Neraka Jahanam seluruhnya.”
Yakni kalau mereka mati dalam kekufuran dan kemunafikan mereka. (QS. An-Nisa’:140)
   Allah memulai dengan menyebutkan orang-orang munafik, karena mereka lebih jelek daripada orang kafir, tetapi menjadikan Neraka sebagai tempat mereka seluruhnya.
   Allah berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu berada pada tingkat paling bawah dari Neraka, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisa’145)
   Kata munafik adalah diambil dari kata nafiqa’ul yarbu’ (liang binatang seperti tikus, kakinya lebih panjang dari tangannya, ekor dan telinganya lebih panjang kalau dibanding dengan tikus). Disebutkan bahwa yarbu’ memiliki dua buah liang, sebuah disebut natiqa’ dan sebuah lagi qashia’. Dan bisa menampakkan dirinya pada liang yang satu dan keluar dari yang lain. Karena itulah orang munafik disebut dengan munafik, sebab dia menampakkan dirinya sebagai seorang muslim, tetapi dia keluar dari islam itu ke arah kafir.
   Ada sebuah hadits, “perumpamaan orang munafik adalah seperti seekor kambing yang kau lihat berada di antara dua kelompok kawanan kambing. Suatu saat ia berjalan menuju kelompok yang ini dan pada saat lain ke arah kelompok yang lain, dia tidak menetap pada satu kelompok dari keduanya karena ia adalah kambing yang asing dan bukan dari golongan dua kelompok itu. Demikian juga dengan orang munafik, dia tidak menetap bersama kaum muslimin sepenuhnya dan juga tidak bersama orang-orang kafir.”
   Sesungguhnya Allah menciptakan Neraka yang memiliki tujuh buah pintu.
Allah SWT berfirman: “Neraka Jahanam itu memiliki tujuh buah pintu.”
(QS. Al-Hijr:44)
   Pintu itu dari besi yang dipenuhi dengan laknat. Bagian luarnya tembaga dan bagian dalamnya adalah timah, dasarnya terdapat siksa dan di atasnya terdapat kemurkaan, sedang buminya dari tembaga, kaca, besi dan timah. Api berada di atas penghuninya, di bawah mereka, di sebelah kanan dan kiri mereka. Setiap tingkat di atas tingkat yang lain dan Allah menyediakan bagi orang-orang munafik tingkat yang paling bawah dari tingkat-tingkat itu.

   Dalam sebuah hadis dijelaskan, sesungguhnya Jibril datang kepada Nabi Muhammad SAW, lalu Nabi bersabda, “Hai Jibril, sebutkanlah sifat Neraka dan panasnya padaku.”
Berkatalah Jibril, “Sesungguhnya Allah SWT telah menciptakan Neraka lalu menyalakan selama seribu tahun sehingga menjadi merah, kemudian menyalakannya lagi seribu tahun sehingga menjadi hitam. Jadi ia adalah hitam kelam. Demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan haq sebagai Nabi, seandainya sebuah pakaian dari pakaian-pakaian penghuni Neraka tampak oleh penduduk bumi dan dituangkan pada air dibumi tentu akan mati semua orang yang mencicipinya. Seandainya satu dzira’ dari rantai yang disebutkan Allah SWT dengan firman-Nya:
“Di dalam rantai, yang panjangnya tujuhpuluh dzira.” (QS. Al-Haaqqah:32)
Risalah Qusyairiyah

   Setiap dzira’ panjangnya sejauh jarak dunia timur sampai dunia barat, diletakkan di atas gunung-gunung dunia tentu akan hancur. Dan seandainya seorang laki-laki masuk Neraka kemudian dikeluarkan ke bumi, tentu penghuni-penghuni bumi ini akan mati karena kebusukan baunya.”
Rasulullah SAW bertanya kepada Jibril: “Ya Jibril, terangkanlah padaku sifat-sifat Jahanam. Adakah dia seperti pintu-pintu kami ini?”
Berkatalah Jibril, “Ya Rasulullah, tidak. Tetapi dia merupakan beberapa tingkat, sebagian lebih rendah dari yang lain. Jarak dari pintu yang satu ke pintu yang lain adalah sejauh perjalanan tujuh puluh tahun. Setiap pintu dari pintu-pintu itu lebih panas daripada pintu yang ada dibawahnya yaitu tujuh puluh kali lipat.”
Beliau bertanya pada Jibril tentang penghuni-penghuni dari pintu-pintu ini, dan dia menjawab, “Adapun yang terbawah adalah orang-orang munafik, namanya Neraka Al-Hawiyah.”
   Seperti firman Allah SWT:
“Sesungguhnya orang-orang munafik di dalam tingkat paling bawah dari Neraka.”
   Pintu kedua, di dalamnya terdapat orang-orang musyrik. Namanya adalah Neraka Jahim. Pintu ketiga, di dalamnya adalah orang-orang dari golongan shabi’in, adapun namanya adalah Neraka Saqir. Pintu keempat di dalamnya adalah iblis alaihilla’nah dan orang yang mengikutinya dari golongan Majusi, adapun namanya adalah Neraka Ladha. Pintu kelima, adalah untuk orang-orang Yahudi, adapun namanya adalah Neraka Al-Huthamah. Pintu keenam, di dalamnya adalah orang-orang Nasrani, adapun namanya adalah Neraka As-Sa’ir.”
Kemudian Jibril menahan pembicaraannya. Maka Rasulullah SAW bertanya,
“Mengapa tidak kau ceritakan tentang penghuni pintu ke tujuh?”
Berkatalah Jibril, “Jangan engkau bertanya padaku tentang itu, Ya Muhammad.”
Beliau bersabda pada Jibril, “Ceritakan padaku tentang penghuni itu.”
Berkata Jibril, “Di dalamnya adalah pemilik dosa-dosa besar dari umatmu yang telah mati dan belum bertobat.”
   Diriwayatkan, sesungguhnya ketika turun ayat firman Allah SWT:
“Dan tidak ada seorang pun dari kamu, melainkan mendatangi Neraka itu.” (QS. Maryam:71)
   Maka menjadi besarlah kekhawatiran Nabi Muhammad SAW terhadap umatnya dan beliau menangis dengan tangisan yang keras. Orang yang ma’rifat kepada Allah dan mengenal kekuasaan dan keperkasaan-Nya, tentu takut kepada-Nya dengan sepenuh rasa takut dan menangisi dirinya dan kesalahannya sebelum dia melihat penderitaan-penderitaan ini serta melihat nyata perkampungan yang menakutkan dan menyengsarakan. Juga sebelum semua bentuk tutup rahasia dirusak dan dia di hadapkan pada Tuhan yang melaksanakan siksa dan Maha Perkasa, lalu dia di perintahkan ke Neraka. Karena banyak pemuda memanggil-manggil di Neraka, ‘Aduh ubanku, aduh maluku, aduh terbukanya rahasiaku’. Benar-benar semua wajah dan tubuh menjadi hitam, punggung-punggung menjadi patah, orang-orang tua tidak dimuliakan dan anak-anak kecil pun tidak dikasihani serta perempuan pun tidak ditutupi. Ya Allah selamatkanlah kami dari Neraka dan siksanya serta dari semua amal perbuatan yang mendekatkan kami ke Neraka, dan masukkanlah kami ke dalam Surga bersama orang-orang yang berbuat baik dengan rahmat-Mu, Ya Tuhan Yang Maha Agung, Ya Tuhan Yang Maha Pengampun. Ya Allah, tutuplah cela-cela kami, berikanlah rasa aman dari ketakutan-ketakutan kami dan hindarkanlah kami dari kesalahan-kesalahan kami serta janganlah Engkau buat malu kami di hadapan-Mu, Ya Tuhan Yang Paling Menyayangi di antara orang-orang yang menyayangi. Semoga Allah mencurahkan rahmat atas tuan kami Muhammad, kepada keluarga da sahabatnya, serta memberi salam.

Artikel Menarik yang lainnya:

1. Takut
2. Takut Kepada Allah
3. Sabar dan Sakit
4. Riyadhan dan Kesenangan Nafsu
5. Kemenangan Nafsu dan Permusuhan Setan
6. Kelengahan
7. Lupa Kepada Allah, Kefasikan dan Kemunafikan
8. Tobat
9. Kecintaan
10. Rindu
11. Taat Kepada Allah, Mencintai-Nya dan Mencintai utusannya Nabi Muhammad SAW
12. Iblis dan Siksanya
13. Amanat
14. Menyempurnakan Shalat Dengan Khudu’ dan Khusyu’
15. Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar
16. Setan
17. Amanat dan Tobat
18. Keutamaan Kasih Sayang
19. Khusyu’ dalam Shalat
20. Menggunjing dan Mengadu Domba
21. Zakat
22. Zina
23. Silatur Rahmi dan Hak-hak Kedua Orang Tua
24. Berbakti Kepada Orang Tua
25. Zakat dan Kekikiran
26. Angan-angan yang Muluk
27. Menjalankan Taat dan Meninggalkan Perbuatan Haram
28. Ingat Mati
29. Beberapa Langit dan Jenis-jenis yang berbeda
30. Kursi dan Arasy, Malaikat Muqorrobin, Rezeki dan Tawakal
31. Di Dalam Meninggalkan Duniawi dan Tercelanya Apa yang Ada Di Dalamnya
32. Tercelanya Dunia

No comments:

Post a Comment