Sabar
dan Sakit
Barangsiapa
yang ingin selamat dari siksa Allah dan memperoleh pahala dan rahmat-Nya serta
masuk ke dalam Surga-Nya, hendaklah ia mencegah nafsunya dari
kesenangan-kesenangan dunia dan hendaklah ia bersabar atas penderitaan dan
bencananya.
Allah SWT
berfirman: “Allah
menyukai orang-orang yang sabar.” (QS.Ali-Imran:146)
Sabar itu ada beberapa macam.
a.
Sabar untuk taat kepada
Allah
b.
Sabar dari
larangan-larangan Allah
c.
Sabar atas musibah pada
benturan pertama.
Barangsiapa yang bersabar untuk taat kepada
Allah SWT, maka Allah memberinya tiga ratus tingkat di surga kelak di hari
kiamat. Setiap tingkat seluas jarak di antara Langit dan Bumi. Barangsiapa yang
bersabar dalam menghindari larangan-larangan Allah, maka Allah memberinya enam
ratus tingkat kelak di hari kiamat. Setiap tingkat seluas jarak antara langit
ke tujuh dan bumi yang ke tujuh. Dan barangsiapa yang bersabar menghadapi musibah,
Allah akan memberinya tujuh ratus tingkat di surga. Setiap tingkat seluas jarak
antara Arasy dan bumi.
Diceritakan bahwasanya Nabi Zakaria AS lari dari orang-orang Yahudi dan mereka mengikuti
jejaknya. Setelah mereka dekat dengannya, dia melihat sebuah pohon dan berkata
pada pohon itu: “Hai
pohon masukkanlah aku ke dalammu.” Pecahlah pohon itu dan dia masuk ke dalamnya,
kemudian pohon itu rapat lagi menyembunyikan Zakaria. Iblis datang memberi saran pada mereka untuk menggunakan
gergaji dan membelah pohon itu menjadi dua bagian agar Zakaria mati di dalamnya. Akhirnya mereka betul-betul mengerjakan
apa yang dikatakan oleh iblis. Hal itu terjadi karena Nabi Zakaria mengandalkan pohon dan bukan mengandalkan pada Allah, hingga menyebabkan kebinasaan
dirinya dibelah dengan gergaji menjadi dua bagian. Seperti apa yang telah
diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW,
bahwa beliau bersabda, Allah SWT
berfirman: “Tidak
ada seorang hamba pun yang terkena musibah lalu berpegang pada-Ku, kecuali Aku
akan memberinya sebelum ia minta kepada-Ku dan Aku akan mengabulkannya sebelum
ia berdoa kepada-Ku. Dan tidak ada seorang hamba pun yang terkena musibah lalu
bergantung kepada makhluk selain Aku, kecuali Aku tutup pintu-pintu langit
baginya.”
Ketika
gergaji sampai pada bagian otak Nabi
Zakaria dia berteriak. Lalu dikatakan kepadanya: Hai Zakaria, sesungguhnya Allah
berfirman kepadamu, “Mengapa
engkau tidak sabar menghadapi siksa dan berkata, ‘Ah?’ Seandainya engkau
mengatakannya sekali lagi, maka Aku akan keluarkan namamu dari daftar para
Nabi.”
Akhirnya Nabi Zakaria menggigit bibirnya dan
bersabar hingga mereka membelahnya menjadi dua bagian itu.
Untuk itu wajib bagi orang yang berakal
untuk bersabar menghadapi bala dan tidak mengadukan kepada manusia, agar dia
selamat dari siksa dunia dan akhirat. Karena bala yang paling berat adalah bala
yang ditimpakan atas para Nabi dan Wali.
Al-Junaid Al-Bahdady berkata: “Bala adalah penerang bagi orang-orang arif, kebangkitan bagi orang-orang yang menghendaki ridha Allah, kebaikan bagi orang-orang mukmin dan kebinasaan bagi orang-orang yang lengah. Tidak seorangpun akan mendapat manisnya iman, sehingga dia telah ditimpa bencana lalu ridha dan bersabar.”
Bersabda Nabi Muhammad SAW: “Barangsiapa sakit dalam semalam lalu sabar dan ridha
kepada Allah SWT, maka dia keluar
dari dosa-dosanya seperti pada hari di saat ibunya melahirkan dia. Maka kalau
kamu sedang sakit janganlah terlalu mengharap sembuh.”
Berkata Adh-Dhahhak:
“Barangsiapa
yang tidak diuji dengan musibah, kesusahan atau bencana dalam setiap empat
puluh hari, maka tidak ada baginya di sisi Allah
sebuah kebaikan pun.”
Dari Mu’adz
bin Jabal RA dia berkata: “Ketika Allah
menguji seorang hamba mukmin dengan sebuah penyakit, dia berfirman kepada
malaikat sebalah kiri: “Angkatlah penulisan
qalam (catatan amal) darinya,” dan
berfirman kepada malaikat sebelah kanan; “Tulislah untuk hamba-Ku sebaik-baik amal yang pernah dia
lakukan.”
Sebuah hadis dari Nabi Muhammad SAW: “Ketika seorang hamba sakit, Allah mengutus kepadanya dua
malaikat dan berfirman: ‘Lihatlah apa yang diucapkan hamba-Ku’.”
Lalu kalau
dia berkata: Alhamdulillah
maka dilaporkannya ucapan itu kepada Allah,
sedang Dia adalah Maha Mengetahui. Dia berfirman: “Kalau
Aku mematikannya, maka wajib bagi-Ku untuk memasukkannya ke dalam surga, dan
kalau aku menyembuhkannya, maka wajib bagi-Ku atas Aku untuk menggantinya dengan
daging yang lebih baik daripada dagingnya semula dan menggantinya dengan darah
yang lebih baik daripada darahnya semula serta menghapuskan (memaafkan)
kejahatannya.”
![]() |
Diceritakan, bahwasanya ada seorang
laki-laki fasik dari Bani Israil,
dia tidak mau berhenti dari kefasikan hingga penduduk negrinya sangat
tergoncang dan tidak berani menghalangi dari kebejatannya. Mereka merendahkan
diri dan berdoa kepada Allah hingga
akhirnya Allah menurunkan wahyu
kepada Nabi Musa AS, bahwa dalam
kalangan Bani Israil ada seorang
pemuda fasik, dia hendaknya mengusir pemuda itu dari negri Bani Israil agar api neraka tidak menimpa mereka karena
kefasikannya. Datanglah Nabi Musa AS
dan mengusirnya. Pemuda itu pergi ke sebuah desa di antara desa-desa yang ada
pada waktu itu. Tetapi Allah memerintahkan Nabi
Musa AS untuk mengusirnya. Diusirlah pemuda itu oleh Nabi Musa AS dan pergi ke sebuah padang pasir di mana disana tidak
terdapat makhluk, tumbuh-tumbuhan, serangga maupun burung. Tiba-tiba dia sakit
di padang luas itu dan tidak ada seorang pun yang menolongnya. Dia terjatuh di
tanah dan melatakkan kepalanya sambil berkata: “Kalau ibuku ada di atas kepalaku tentu ia akan
merasa kasihan padaku dan menangisi kenistaanku. Kalau ayahku ada di sini,
tentu ia membantuku dan mengurus masalahku. Kalau istriku ada di sini, tentu ia
menangisi kepergianku. Dan kalau anak-anakku hadir, tentu mereka akan menangis
di belakang jenazahku dan berdoa, ‘Ya Allah,
ampunilah bapakku yang mengembara, tak berdaya, durhaka, fasik dan terbuang
dari negerinya sampai ke sebuah desa, dari desa itu terbuang lagi ke tengah
padang luas dan dari tempati itu dia keluar dari dunia menuju akhirat dengan
berputus asa dari segala sesuatu. Ya Allah, engkau telah memisahkan aku dari
kedua orang tuaku, dari anak-anakku dan dari istriku. Tetapi janganlah Engkau
putuskan aku dari rahmat-Mu. Sesungguhnya Engkau telah membakar hatiku karena
berpisah dengan mereka, tetapi janganlah Engkau bakar aku dengan api neraka-Mu
karena kedurhakaanku’.”
Lalu Allah mengutus seorang bidadari yang menyerupai diri seperti ibunya, seorang bidadari yang menyerupakan diri seperti istrinya, beberapa anak yang menyerupakan diri mereka seperti anak-anaknya dan seorang malaikat yang menyerupakan diri seperti ayahnya. Mereka duduk di sampingnya dan menangisinya.
Dia berkata:
“Ini bapak, ibu,
istri dan anak-anakku datang padaku.” Bergembiralah hatinya dan
pulang ke rahmat Allah SWT dalam
keadaan suci dan diampuni.
Lalu Allah
SWT menurunkan wahyu kepada Nabi
Musa AS: “Pergilah
ke Padang ‘P’ dan tempat ‘T’, karena telah mati di sana seorang wali dari
sekalian para wali. Datanglah kepadanya, uruslah perkaranya dan kebumikan dia.”
Ketika Nabi Musa AS datang ke tempat itu, Dia
melihat pemuda yang pernah di usir dari negerinya dan dari sebuah desa dengan
perintah Allah SWT. Serta dia
melihat bidadari-bidadari yang bermata jeli berada di sekitarnya. Nabi Musa AS berkata: “Ya Tuhanku,
kalau pemuda ini adanya, maka ia adalah orang yang telah ku usir dari negeriku
dan desa itu atas perintah-Mu.”
Allah
SWT berfirman: “Hai Musa, Aku telah memberinya
rahmat dan mengampuninya sebab rintihan di tempatnya berada dan perpisahannya
dengan tanah kelahirannya, ibu, anak-anak serta istrinya. Aku mengutus bidadari yang menyerupai ibunya, seorang malaikat yang
menyerupai bapaknya, bidadari yang menyerupai istrinya. Semuanya merasa iba atas
kenistaannya di tempat terpencil, maka menangislah penghuni langit dan penghuni
bumi karena merasa kasihan padanya, lalu bagaimana Aku tidak menyayanginya sedang Aku
adalah Zat yang paling menyayangi di antara orang-orang yang menyayangi.”
Allah SWT berfirman: “Hai malaikat-malaikat-Ku,
orang yang terpencil ini adalah pengembara yang meninggalkan anak-anaknya,
keluarganya dan kedua orang tuanya. Ketika dia mati tidak seorang pun yang akan
menangisinya dan bersedih.”
Kemudian Allah
menjadikan orang dari malaikat yang menyerupai bapaknya, ibunya, anaknya dan
seorang lagi menyerupai salah satu kerabatnya. Mereka masuk pada orang itu dan
membuka matanya, dia bisa melihat kedua orang tuanya dan keluarganya lalu
menjadi lega hatinya serta nyawanya keluar dengan keadaan penuh kepuasan dan
kegembiraan, kemudian apabila telah keluar jenazahnya, malaikat-malaikat itu
mengiringnya dan mendoakannya di atas kuburnya sampai hari kiamat. Semua itu
sesuai dengan firman Allah: “Allah
adalah Tuhan Yang Maha Penyayang pada hamba-hamba-Nya.”
Ibnu Atha’ berkata:
akan terlihat nyata kebenaran seorang hamba dari kepura-puraannya di dalam waktu
susah dan waktu-waktu lapang. Barangsiapa bersyukur pada hari-hari lapang dan
mengeluh pada hari-hari naas, dia termasuk orang yang bohong. Seandainya berkumpul
pada seorang laki-laki ilmu seluruh manusia dan keluhan mengenai apa yang menimpanya,
maka tidaklah bermanfaaat baginya ilmu dan amalnya, seperti apa yang ada dalam
hadis qudsi,
Allah SWT berfirman: “Barangsiapa yang tidak puas
dengan qadha’-Ku dan tidak bersyukur kepada pemberian-Ku, hendaklah dia mencari
Tuhan selain Aku.”
Wahb bin Munabbih menceritakan, bahwa ada seorang Nabi yang mengabdi kepada Allah selama lima puluh tahun. Allah menurunkan wahyu kepadanya: “Sesungguhnya Aku mengampunimu.”
Nabi itu
berkata: “Ya
Tuhanku, mengapa Engkau harus mengampuniku, sedang aku tidak pernah berbuat
dosa sama sekali.”
Lalu Allah
memerintahkan sebuah urat dan didenyutkan padanya. Semalaman dia tidak bisa
tidur, sehingga datanglah malaikat pagi dan dia mengadukan kepadanya mengenai
denyutan urat itu. Malaikat itu berkata: “Sesungguhnya Tuhanmu berfirman kepadamu: ‘Ibadah lima puluh tahun tidak bisa mengimbangi keluhan rasa sakit atas
urat itu’.”
2. Takut Kepada Allah
3. Sabar dan Sakit
4. Riyadhan dan Kesenangan Nafsu
5. Kemenangan Nafsu dan Permusuhan Setan
6. Kelengahan
7. Lupa Kepada Allah, Kefasikan dan Kemunafikan
8. Tobat
9. Kecintaan
10. Rindu
11. Taat Kepada Allah, Mencintai-Nya dan Mencintai utusannya Nabi Muhammad SAW
12. Iblis dan Siksanya
13. Amanat
14. Menyempurnakan Shalat Dengan Khudu’ dan Khusyu’
15. Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar
16. Setan
17. Amanat dan Tobat
18. Keutamaan Kasih Sayang
19. Khusyu’ dalam Shalat
20. Menggunjing dan Mengadu Domba
21. Zakat
22. Zina
23. Silatur Rahmi dan Hak-hak Kedua Orang Tua
24. Berbakti Kepada Orang Tua
25. Zakat dan Kekikiran
26. Angan-angan yang Muluk
27. Menjalankan Taat dan Meninggalkan Perbuatan Haram
28. Ingat Mati
29. Beberapa Langit dan Jenis-jenis yang berbeda
30. Kursi dan Arasy, Malaikat Muqorrobin, Rezeki dan Tawakal
31. Di Dalam Menginggalkan Duniawi dan Tercelanya Apa yang Ada Di Dalamnya
32. Tercelanya Dunia
Artikel Menarik yang lainnya:1. Takut
2. Takut Kepada Allah
3. Sabar dan Sakit
4. Riyadhan dan Kesenangan Nafsu
5. Kemenangan Nafsu dan Permusuhan Setan
6. Kelengahan
7. Lupa Kepada Allah, Kefasikan dan Kemunafikan
8. Tobat
9. Kecintaan
10. Rindu
11. Taat Kepada Allah, Mencintai-Nya dan Mencintai utusannya Nabi Muhammad SAW
12. Iblis dan Siksanya
13. Amanat
14. Menyempurnakan Shalat Dengan Khudu’ dan Khusyu’
15. Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar
16. Setan
17. Amanat dan Tobat
18. Keutamaan Kasih Sayang
19. Khusyu’ dalam Shalat
20. Menggunjing dan Mengadu Domba
21. Zakat
22. Zina
23. Silatur Rahmi dan Hak-hak Kedua Orang Tua
24. Berbakti Kepada Orang Tua
25. Zakat dan Kekikiran
26. Angan-angan yang Muluk
27. Menjalankan Taat dan Meninggalkan Perbuatan Haram
28. Ingat Mati
29. Beberapa Langit dan Jenis-jenis yang berbeda
30. Kursi dan Arasy, Malaikat Muqorrobin, Rezeki dan Tawakal
31. Di Dalam Menginggalkan Duniawi dan Tercelanya Apa yang Ada Di Dalamnya
32. Tercelanya Dunia






No comments:
Post a Comment