Tercelanya
Dunia
Sebagian ulama berkata, “Wahai manusia, beramallah dengan sembunyi-sembunyi,
jadilah orang yang takut kepada Allah
dan janganlah tertipu dengan angan-angan dan melupakan ajal, serta janganlah
kamu condong kepada dunia. Karena dunia banyak berkhianat dan suka menipu,
dunia tampak gemerlapan dengan tipudayanya, memfitnah kamu dengan menjamin
keamanannya dan manis dalam bertutur kata. Dunia seperti pengantin yang
bercelak. Banyak mata yang memandangnya. Banyak hati yang terpikat kepadanya
dan banyak sekali orang yang condong kepadanya. Maka pandanglah dunia dengan
penuh kenyataan. Sesungguhnya dunia adalah perkampungan yang banyak bahayanya
dan Tuhan telah mencelanya, barang barunya akan usang, kerajaannya akan binasa,
kemuliaannya adalah hina, yang banyak adalah sedikit, kecintaannya akan mati
dan kebaikannya akan habis. Untuk itu sadarlah dari kelalaianmu selama ini dan
bangunlah dari tidurmu sebelum dikatakan, “Fulan
sedang sakit atau sakit asmara yang berat. Adakah yang menunjukkan obatnya atau
adakah jalan menuju ke dokter.” Lalu dipanggillah
para dokter tetapi tidak dapat diharapkan bisa menyembuhkanmu. Kemudian dikatakan,
“Fulan telah berwaisat dan telah menghitung-hitung
harta bendanya.” Kemudian dikatakan lagi,
“Telah berat lidahnya, lalu dia tidak dapat berbicara
dengan kawan-kawannya dan tidak mengenal lagi tetangga-tetangganya.” Berkeringatlah pelipismu mata itu dan (terdengar) silih
berganti keluhanmu, telah tetap keyakinanmu dan terbelalak matamu, menjadi
benarlah dugaan dan menjadi kelu lidahmu. Saudara-saudaramu menangis dan
dikatakan kepadamu, “Ini adalah anakmu, ini
adalah saudaramu.” Tetapi engkau tidak mau
berbicara dan tidak dapat berkata serta dikunci lidahmu, maka kamu tidak dapat
mengeluarkan kata-kata. Kemudian berlaku ketentuan qadha’ dan lepaslah nyawa dari tubuhmu. Dinaikkanlah nyawa itu ke
langit, berkumpullah waktu itu saudara-saudaramu dan didatangkanlah kain-kain
kafanmu, lalu mereka memandikan dan mengkafanimu. Berhentilah orang-orang yang
mengunjungimu dan beristirahatlah orang-orang yang mendengkimu. Keluargamu kembali
kepada harta-benda dan tinggallah kamu beserta amal-amalmu.”
BERSAMBUNG…
(halaman ini masih dalam tahap pengetikan…)
No comments:
Post a Comment