Monday, September 26, 2016

Keutamaan Bulan Sya’ban yang Penuh Berkah

Keutamaan Bulan Sya’ban Yang Penuh Berkah
   Disebut Sya’ban karena ada beberapa kebaikan yang sangat banyak. Sya’ban diambil dari kata ‘Asy-Syi’bi’, yaitu jalan di gunung. Jadi Sya’ban adalah jalan kebaikan.
   Abi Umamah Al-Bahili r.a berkata, Rasulullah SAW pernah bersabda: “Apabila datang bulan Sya’ban, maka bersihkanlah dirimu dan perbaikilah niatmu.”
   Aisyah r.a berkata, Rasulullah SAW telah berpuasa, sehingga kami mengatakan beliau tidak akan berbuka puasa (tidak puasa). Beliau selalu berbuka, sehingga kami mengatakan beliau tidak berpuasa. Dan kebanyakan puasa beliau adalah dalam bulan Sya’ban.”
   Dalam An-Nasa’i dari hadis Usamah r.a berkata, “Ya Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa pada sebuah bulan dari bulan-bulan ini, seperti puasamu dalam bulan Sya’ban.”
   Beliau bersabda: “Itu adalah sebuah bulan, yang biasanya manusia lengah, antara Rajab dan Ramadhan. Dia adalah sebuah bulan di mana amal-amal ini diangkat kepada Tuhan seru sekalian alam. Maka aku suka kalau amalku diangkat (dilaporkan), sedang aku dalam keadaan puasa.”
   Di dalam sahihain dari Aisyah r.a, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa sebulan sama sekali, kecuali bulan Ramadhan, dan aku pun tidak pernah melihat – beliau dalam sebulan yang lebih banyak berpuasa daripada bulan Sya’ban.”
   Imam Muslim berkata, “Beliau telah berpuasa bulan Sya’ban, kecuali sedikit.” Riwayat ini menjelaskan riwayat pertama. Jadi, yang dimaksudkan dengan penuh adalah bagian yang terbesar.

BERSAMBUNG…

(halaman ini masih dalam tahap pengetikan.)

Keutamaan-keutamaan Bulan Rajab

Keutamaan-keutamaan Bulan Rajab
   Kata ‘Rajab’ diambil dari masdar ‘tarjib’ artinya memuliakan. Dan di sebut pula dengan Al-Ashab (yang tercurah), karena rahmat tertumpah pada orang-orang yang bertobat dan meluaplah sinar-sinar diterimanya amal atas orang-orang yang beramal. Juga disebut dengan ‘Al-Asham’ (yang tuli), karena dalam bulan itu tidak didengar suara peperangan. ‘Rajab’ adalah nama sebuah sungai di surga, airnya lebih putih daripada susu, lebih manis daripada madu dan lebih sejuk daripada es. Tidak akan meminumnya, kecuali orang puasa bulan Rajab.
   Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban bulanku dan Ramadhan adalah bulan umatku.”
Pemilik isyarat berkata, “Rajab – terdiri dari tiga huruf, yaitu ra’, jin dan ba’, adalah birru Allah (kebaikan Allah).
  Allah telah berfirman: “Aku menjadikan jarimah (pelanggaran) hamba-Ku di antara rahmat dan kebaikan-Ku.”
Abu Hurairah r.a berkata, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa pada hari ke duapuluh tujuh dari bulan Rajab, maka dia akan dicatat sebagaimana puasa enam puluh bulan.”

BERSAMBUNG…

(halaman ini masih dalam tahap pengetikan.)

Larangan Bid’ah dan Mengikuti Hawa Nafsu

Larangan Bid’ah dan Mengikuti Hawa Nafsu
   Nabi Muhammad SAW bersabda: “Takutlah kamu terhadap hal-hal yang dibuat baru, karena sesungguhnya setiap perbuatan yang baru adalah bid’ah. Setiap bid’ah adalah sesat. Setiap yang sesat adalah di Neraka.”

   Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa yang membuat baru dalam perkaraku ini (Islam), apa yang sebenarnya bukan daripadanya, maka dia adalah ditolak.”

   Nabi Muhammad SAW bersabda: “Hendaklah kamu memegang teguh dengan sunahku dan sunah (perjalanan) Khulafaur Rasyidin sepeninggalanku.”

Diketahui dari hadis-hadis ini, bahwa sesungguhnya apa yang berbeda dengan Al-Kitab dan sunah serta ijma’ imam-imam, ia adalah bid’ah yang ditolak.
   Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa yang meletakkan sebuah tindakan yang baik, dia mendapat pahala dari tindakan itu dan pahala orang ayang mengamalkan tindakan itu sampai hari kiamat. Dan barangsiapa yang meletakkan sebuah tindakan yang jahat, maka dia mendapat dosa dari tindakan itu dan dosa orang yang mengamalkan tindakan itu sampai hari kiamat.”

BERSAMBUNG…

(halaman ini masih dalam tahap pengetikan.)

Lagu (Nyanyian)

Lagu (Nyanyian)
   Al-Qadhi Abuth Thayyib Ath-Thabari menceritakan dari Asy-Syafi’i, Malik, Abi Hanifah. Sufyan dan segolongan ulama lagi, beberapa lafal yang dapat dibuat dalil untuk menunjukkan bahwa mereka berpendapat tentang haramnya nyanyian itu.
   Imam Asy-Syafi’i berkata di dalam Kitab Adabul-Qadha’. “Sesungguhnya nyanyian itu adalah lahwu (senda-gurau) yang dibenci dan sangat mirip dengan kebathilan. Barangsiapa yang memperbanyak itu, maka dia orang bodoh (safih) yang ditolak kesaksiannya.”
   Al-Qadhi Abuth Thayyib berkata, “Mendengarkan suara dari perempuan yang bukan mahramnya tidak boleh (haram) menurut ulama-ulama bermazhab Syafi’i, baik terbuka maupun dari belakang tabir, dan baik perempuan merdeka  atau budak perempuan. Apabila mengumpulkan manusia perlu mendengarkan nyanyiannya, dia adalah orang safih yang ditolak kesaksiannya.”
Dia berkata, “Diceritakan dari Asy-Syafi’i, bahwa sesungguhnya dia membenci ketukan dengan tongkat dan berkata, ‘Orang-orang zindiq telah memulainya agar mereka sibuk dengan mengabaikan Al-Qur’an’.”
   Asy-Syafi’i berkata, “Dari segi kabar dibenci bermain dengan nardi (sebuah permainan asli Persi) melebihi dari kebencian permainan dengan sebuah alat malahi (music). Dan aku tidak suka permainan catur. Aku pun membenci semua yang digunakan permainan oleh manusia. Karena permainan bukanlah perbuatan orang yang memiliki agama dan sifat mur’ah (keperwiraaan).”
Adapun Malik berpendapat, maka dia benar-benar telah melarang nyanyian dan berkata, “Apabila seseorang membeli budak perempuan, lalu dia menemukannya sebagai penyanyi, maka dia boleh mengembalikan budak itu. Itu adalah pendapat semua ulama Madinah, kecuali Ibrahim bin Sa’ad”
Adapun pendapat Abu Hurairah r.a, maka sesungguhnya dia membenci itu dan mendengar nyanyian termasuk dosa. Demikianlah semua ulama Kufah, Sufyan Ats-Tsauri, Hammad, Ibrahim, Asy-Sya’bi dan lain-lainnya, semua ini telah dinukil oleh Qadhi Abuth-Thayyib Ath-Thabari.

BERSAMBUNG…

(Halaman ini masih dalam tahap penyempurnaan.

Tipu Daya Setan

Tipu Daya Setan
   Seorang laki-laki berkata kepada Al-Hasan, “Hai Abu Sa’ad, adakah setan itu juga tidur?” dia tersenyum dan berkata, “Seandainya dia itu tidur, tentu kita bisa beristirahat.” Jadi, kalau memang demikian, tidak ada keselamatan bagi seorang mukmin. Walaupun begitu, terdapat jalan untuk menolak dan melemahkan kekuatan setan itu.
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin itu membuat kurus setan, sebagaimana seorang dari kamu membuat kurus unta dalam perjalanan.”
Ibnu Mas’ud berkata, “Setan orang mukmin adalah kurus.”
Qais bin Al-Hajjaj berkata, “Setan berkata kepadaku, ‘Aku telah masuk ke dalam kamu sedang aku seperti binatang yang siap untuk disembelih dan aku sekarang seperti burung pipit’.”
Aku berkata, “Mengapa begitu.”
Dia berkata, “Engkau telah menghancurkan aku dengan zikir kepada Allah SWT.”
Jadi, orang-orang yang memiliki takwa tidak akan terlalu sulit untuk menutup pintu-pintu yang dhahir dan jalan-jalan yang jelas yang mesti membawa orang kepada maksiat. Mereka hanya akan tergelincir dalam jalan-jalan setan yang rumit. Sesungguhnya mereka tidaklah mendapat petunjuk ke arah itu lalu dapat menjaganya. Karena bagi setan pintu-pintu menuju ke hati banyak sekali, sedang pintu malaikat hanya sebuah pintu saja. Sungguh menjadi kabur pintu yang satu itu dengan pintu-pintu yang banyak. Seorang hamba disana seperti seorang musafir yang tinggal di hutan, banyak jalan yang sulit dilalui, dan dalam malam yang gelap, kecuali dengan penglihatan hati, maksudnya, hati yang jernih dibersihkan dengan takwa. Sedangkan sebagai mataharinya yang bersinar terang adalah ilmu yang bercokol yang diambil faidah dari Kitab Allah dan sunah Rasul-Nya, yang dapat digunakan sebagai petunjuk kepada jalan-jalan setan yang sulit. Mengapa kamu tidak begitu, sedang jalan-jalannya banyak dan serba sulit.

BERSAMBUNG…

(halaman ini masih dalam tahap pengetikan.)

Keutamaan Jihad

Keutamaan Jihad
   Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang benar.” (QS. Al-Hujurat:15)

An-Nu’man bin Basyir r.a berkata, aku pernah berada di samping mimbar Rasulullah SAW. seorang laki-laki berkata, “Aku tidak peduli untuk tidak mengerjakan suatu amalan setelah Islam kecuali aku memberi minum orang yang mengerjakan ibadah haji.”
Yang lain berkata, “Aku tidak peduli untuk tidak mengerjakan suatu amalan setelah Islam, kecuali memakmurkan Masjidil Haram.”
Yang lain lagi juga berkata, “Sungguh jihadlah yang lebih utama dari apa yang kamu katakan.”
Lalu Umar bin Al-Khattab melarang mereka dan berkata, “Janganlah kamu mengeraskan suara-suaramu di samping mimbar Rasulullah SAW. ini adalah adalah hari Jumat. Tetapi kalau aku telah melakukan shalat Jumat aku akan masuk dan minta fatwa pada beliau mengenai apa yang sedang kamu perselisihkan.”
Lalu Allah SWT berfirman:
“Apakah (orang-orang) yang memberi minum kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama disisi Allah, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. At-Taubah:19)

BERSAMBUNG,…

(halaman ini masih dalam tahap pengetikan.)

Hak Suami atas Istri

Hak Suami Atas Istri
   Perkataan yang paling tepat, bahwa sesungguhnya perkawinan adalah merupakan semacam perbudakan saja. Jadi, istri tak ubahnya seorang budak dalam perkawinan. Maka wajib bagi istri mentaati suaminya secara mutlak dalam setiap hal, tetapi sekitar hal yang tidak mengagungkan hak suami atas dia. Beberapa hadis sangat banyak.
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Perempuan manapun yang mati sedang suaminya ridha padanya, dia akan masuk surga.”
Pernah seorang laki-laki keluar bepergian dan berpesan pada istrinya untuk tidak turun dari tingkat bawah. Ayah perempuan itu sedang berada di tingkah bawah dan sakit. Perempuan itu mengirim utusan kepada Rasulullah SAW, meminta ijin untuk turun menemui ayahnya.
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Taatlah kepada suamimu.”
Lalu ayahnya itu meninggal. Dia minta pendapat kepada beliau.
Beliau bersabda: “Taatlah kepada suamimu.”
Kemudian ayahnya dikubur dan Rasulullah SAW mengutus seorang utusan kepada perempuan itu, dengan mengabarkan bahwa sesungguhnya Allah SWT telah mengampuni ayahnya berkat ketaatannya terhadap suaminya.
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Apabila seorang perempuan telah shalat lima waktu, berpuasa sebulan, menjaga farjinya, dan taat kepada suaminya, maka dia akan masuk surga Tuhannya.”
Beliau telah mengumpulkan ketaatan terhadap suami dengan dasar-dasar Islam. Rasulullah SAW pernah menuturkan tentang wanita-wanita.
Beliau bersabda: “Mereka perempuan-perempuan yang mengandung, melahirkan, menyusui, menyayangi anak-anak mereka. Seandainya tidak ada hal yang mereka lakukan terhadap suami-suaminya, maka akan masuk surgalah orang-orang yang melihat neraka. Kebanyakan penghuni neraka adalah kaum wanita.”
Wanita-wanita itu berkata, “Mengapa Ya Rasulullah?”
Beliau bersabda: “Mereka memperbanyak laknat dan mengingkari asyir (yang mengumpuli).” Yakni suami yang menggaulinya.
Di dalam khabar yang lain diceritakan, “Aku pernah melihat ke dalam surga. Tiba-tiba sebagian besar penghuninya adalah wanita.”
Aku bertanya, “Di mana wanita-wanita.”
Beliau bersabda: “Mereka menyibukkan dua buah kemerahan, emas dan za’faran.” Yakni perhiasan emas dan perak dan pakaian yang di wenter (diberi warna).

BERSAMBUNG…

(halaman ini masih dalam tahap pengetikan.)